Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Thursday, April 19, 2007

Yang Ditunggu Akhirnya Berbunga

Saya menyukai tanaman.  Bukan hanya memandang indah bunganya, tapi juga menanam dan merawatnya.  Ya.., ‘gardening’ adalah salah satu hobby saya.  Sayangnya sejak tinggal di UK saya tidak punya lahan untuk menyalurkan hobby saya ini.  Kami kebagian rumah yang sama sekali tidak punya ‘garden’nya. 


 


Apakah saya lantas menyerah ?  Tidak juga…  Saya punya beberapa tanaman ‘indoor’ dalam pot yang saya rawat minimalis, hanya dengan menyiram, memotong daun yang kering, dan mengganti tanah secara teratur.  Beberapa tanaman yang saya miliki saat ini memang sengaja saya beli di ‘Leeds Market’ yang murah meriah, ada juga yang saya tanam sendiri dari tunas kecil pemberian teman, dan ada juga yang merupakan warisan teman-teman yang pulang ke Indonesia. 


 


Nah, di antara  tanaman warisan teman-teman ini ada satu pot kecil tanaman sejenis kaktus berdaun (namanya ‘Christmas Cactus’) yang saat diberikan kepada saya sudah ‘hidup segan mati tak mau’.  Menurut sang teman, kaktus ini punya bunga yang indah sekali.  Hampir dua tahun di rumah saya, tanaman ini tumbuh membaik.  Daunnya tumbuh panjang menjuntai plus daun-daun baru yang bermunculan.  Namun selama itu…,bunganya tak juga mau muncul.


 


Sampai tiga minggu lalu, saat saya menyiramnya, saya memperhatikan ada yang berubah pada daun kaktus ini.  Dari setiap ujung helai daun yang menjuntai tadi, muncul benjolan kecil berwarna merah muda.  ‘Wah.., mulai keluar bunga nih’, pikir saya.  Setiap hari..benjolan ini bertambah besar dan warnanya tambah jelas.  Saya semakin yakin.., si bunga kaktus akan ‘blooming’. 


 


Dan minggu lalu, bunga pertama mekar.  Indah sekali!.  Bunga dengan helaian yang berwarna pink cerah pada bagian luar dan putih bagian dalam ini mekar di ujung daun membentuk dua lapisan bunga yang menyatu satu sama lain.  Bunga-bunga lain kemudian bermekaran…. 


 


Horeee….., akhirnya sang ‘Christmas Cactus’ berbunga juga ..!  Tak sia-sia saya menunggu selama ini.  Beberapa foto bunga tersebut bisa dilihat di halaman ini.  Bagus bukan ? (Bilang aja iya..he..he..).



Untaian bunga di ujung daun


 


 


 


Leeds, 19 April 2007


 


 

Thursday, April 12, 2007

Duek Pakat I - Rangkang Nanggroe UK

 

Saat libur panjang akhir pekan lalu kami sekeluarga punya kesibukan heboh di rumah, yaitu menjadi tuan rumah bagi peserta pertemuan I komunitas Aceh se UK alias Duek Pakat I  Rangkang Nanggroe UK.  Pertemuan ini merupakan ajang silaturrahmi bagi kami komunitas masyarakat Aceh yang sedang berada di UK baik untuk melanjutkan kuliah, bekerja, ataupun yang sudah menetap di sini.

 

Leeds dipilih karena kebetulan ada dua keluarga Aceh yang tinggal di sini, sekompleks lagi, yaitu keluarga saya dan kel Pak Kamil..  Selain itu kami juga merupakan anggota paling senior (untuk mengganti kata paling tua he..he..) dari milis ‘Rangkang Nanggroe’.  Meskipun selama ini kami sudah saling berkomunikasi lewat milis ini, namun beberapa di antara anggota belum pernah saling ketemu.  Makanya pertemuan di rumah (tepatnya flat) kami ini jadi terasa meriah penuh kekeluargaan.

 

Duek Pakat (Bahasa Aceh) merupakan istilah yang umum digunakan saat beberapa orang atau sekelompok masyarakat berkumpul bersama untuk membicarakan satu dan lain hal.  Literally, Duek berarti ‘duduk’, sedangkan Pakat’ artinya ‘musyawarah’.   Kalau diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia, Duek Pakat berarti bermusyawarah untuk memutuskan sesuatu hal.

 

Begitulah, dalam acara Duek Pakat kali ini intinya kami ingin masyarakat Aceh yang ada di UK mempunyai suatu wadah untuk menyalurkan pendapat atau ide seputar pembangunan kembali Aceh pasca tsunami.  Tentu saja kami juga ingin bisa berbuat sesuatu bagi pembangunan Aceh kembali.  Tidak muluk-muluk keinginan kami, minimal kami mempunyai suatu wadah untuk bersilaturahmi plus membantu teman-teman atau adik-adik yang ingin melanjutkan  pendidikan di UK dengan berbagi informasi yang dianggap perlu.  Dalam pertemuan kali ini juga dibahas kelanjutan group tari ‘Saman Merdeka’ yang dimotori beberapa mahasiswa asal Aceh dan daerah lain di Indonesia, dan telah tampil di Oxford dalam acara ‘Indonesian Cultural Night’ Februari lalu, dan di Leicester dalam acara ‘International Student Festival’ bulan Maret kemarin.

 

Desember tahun lalu, beberapa mahasiswa Aceh di UK membentuk milis masyarakat Aceh UK, yang merupakan sarana untuk berdiskusi atau sekedar membagi cerita seputar pengalaman hidup di UK.  Seperti saya sebutkan di atas, milis ini diberi nama Rangkang Naggroe.  Perlu dicatat bahwa tidak semua anggotanya berasal dari Aceh tapi juga mereka dari luar Aceh namun peduli tentang Aceh.

 

Dalam kehidupan masyarakat Aceh, musyawarah untuk memutuskankan sesuatu adalah suatu hal yang biasa.  Dulunya musyawarah ini selalu dilakukan di bangunan kecil dengan dinding setengah terbuka, yang terpisah dari rumah induk, bila itu musyawarah tingkat keluarga.  Bangunan kecil ini mirip dengan ‘bale-bale’ atau ‘balai desa’ dalam konteks yang lebih luas.  Di Aceh, bangunan seperti ini dulunya sering disebut sebagai rangkang, yang juga bisa berarti tempat anak-anak belajar mengaji.  Sedangkan nanggroe adalah kata yang umum digunakan oleh masyarakat aceh untuk ‘negeri’ yang dalam hal ini berarti Aceh dalam arti luas sebagai suatu kesatuan kampung halaman.  Seperti halnya nama milis komunitas Aceh yang ada kini, Rangkang Nanggroe juga dipilih sebagai nama organisasi non formal untuk menyatukan masyarakat Aceh di UK.  Dalam terjemahan bebasnya, Rangkang Nanggroe bisa diartikan sebagai ‘Balai Negeri’.

 

Acara Duek Pakat berlangsung Sabtu-Minggu,7-8 April 2007.  Alhamdulillah acara inti dapat diselesaikan seharian penuh hari Sabtu. Hari Minggu-nya semua peserta yang masih tinggal di Leeds memilih untuk jalan-jalan seputar Leeds atau ke York, yang berjarak 30 menit jarak tempuh dengan kereta.

 

Sebagai tuan rumah, kami sekeluarga lumayan sibuk.  Sejak beberapa hari sebelumnya suami saya dan P’Kamil sudah membicarakan masalah akomodasi para peserta, karena sebagain besar peserta menginap satu atau dua malam di Leeds.  Sedangkan saya juga sibuk mengatur menu dan meminta bantuan Bu Rina (isterinya Pak Kamil) dan mbak Sofia (teman Indonesia juga) membantu saya untuk urusan masak memasak.

 

Kesibukan kami juga ditambah dengan rasa tak enak saya karena kami tidak berada di rumah pada saat peserta berdatangan Jum’at sore-malam (6 April).  Malam itu kami sekeluarga berangkat ke Bradford untuk menonton ‘Evening of Inspiration’ yang merupakan acara tahunan penggalangan dana oleh ‘Islamic Relief’.  Kami sudah membeli tiket pertunjukan jauh hari sebelum acara Duek Pakat direncanakan.  Kedua anak laki-laki saya sedang ‘ngefans’ berat sama group penyanyi Denmark ‘Outlandish’ yang ikut tampil malam itu.  Alhamdulillah, kedatangan Saiful (dari Liverpool) ke Leeds di siang hari Jum’at sangat membantu kami untuk ‘menjaga gawang’ dan menjemput peserta yang datang kemudian (trims ya..Saiful).

 

Kini..,beberapa hari setelah acara Duek Pakat berlalu, kelelahan saya belum pulih sepenuhnya.  Namun sejujurnya, semua kelelahan ini tak ada artinya dibandingkan dengan kebahagiaan hati saya bertemu dan berkumpul dengan semua peserta. Mereka datang dari berbagai kota di England: London, Oxford, Southampton, Liverpool, Birmingham, Nottingham, Sheffield, dan Newcastle. 

 

Acara  Duek Pakat juga membuat kami semua ‘surprised’ karena ternyata banyak peserta berasal dari sekolah yang sama dulunya, baik TK, SD, SMP ataupun SMA, meskipun beda generasi.   Saya bahkan ketemu dengan tetangga di Kampung Mulia, Banda Aceh yang saat ini sedang sekolah di London.  Rumah orang tua kami berada pada jalan yang sama.  Dia ingat sekali pada saya semasa gadis dulu..(he..he.. Dedek saat itu masih ‘ingusan’ ya..).  Anak-anak yang ikut orang tuanya pada pertemuan ini juga tak kalah gembiranya.  Mereka bertemu dengan teman-teman baru dan bisa main seharian di halaman kompleks flat kami.  Bahkan Faiz yang belum berusia 2 tahun (peserta Duek Pakat termuda), putra kel Azma-Amel, Soton,  ikut menikmati acara kumpul-kumpul ini. 

 

Hari Selasa 10 April, seusai melepas keluarga Saharman-Meutia kembali ke London, anak bungsu saya, Ilman, sudah bertanya: ‘ Mum, when is the next Aceh Gathering ?’.  Rupanya dia juga sangat terkesan dengan acara Duek Pakat ini.

 

 

Leeds, 12 April 2007

lily

 

 

 

Sunday, March 11, 2007

Usia 17

 


Kamis, suatu hari di bulan Agustus 1989.


Pukul 20.30  WIB


 


Beralamat rumah keluarga kami, malam itu saya memasuki babak baru sejarah hidup yang akan saya jalani.  Ya,.malam itu dihadapan keluarga besar ke dua belak pihak, Bapak menikahkan saya, anak sulungnya dengan pria pilihan saya yang juga telah menarik perhatian orang tua dan adik-adik saya.


 


Saya ingat berhari-hari sebelumnya Ibu saya sudah gelisah menunggu saat itu tiba.  Saya tahu diantara rasa bahagianya untuk saya, Ibu juga merasa berat harus melepaskan putrinya untuk orang lain.  Perasaan yang mungkin  baru bisa saya pahami bertahun kemudian ketika saya juga sudah menjadi ibu.  Bapak kelihatan lebih tenang, meskipun beliau harus memanggil saya untuk latihan menghafal kalimat yang akan diucapkan saat akad nikah. 


 


Saya tahu orang tua saya menyimpan banyak harapan untuk saya.  Sebagai anak sulung, saya sudah terbiasa dengan nasehat mereka agar saya selalu bisa menjadi teladan bagi ketiga adik saya.  Ketika masih SD dan SMP setiap kali timbul keributan diantara kami berempat, Bapak selalu meminta saya memulai acara perdamaian meskipun saat itu saya sedang sangat kesal terhadap salah satu atau semua adik saya.  Kebiasaan ini ternyata membuat hubungan kami kakak-beradik sangat dekat sampai kami semua telah dewasa, yang terkadang membuat iri para sepupu saya.


 


Meskipun telah menikah, saya tetap mendapat dukungan penuh dari Bapak-Ibu untuk menjalani aktivitas saya sebagai dosen.  Kampus tempat saya bekerja yang berada di kota yang sama, membuat saya tidak harus langsung berpisah dengan orang tua setelah menikah.  Apalagi, beberapa bulan setelah menikah, suami saya meninggalkan saya yang sedang hamil muda untuk melanjutkan sekolahnya Canada. Ibu juga ikut menemani saya dan putri sulung saya yang waktu itu baru berusia 10 bulan, ketika saya harus mengikuti training bahasa di Jakarta sebelum saya berangkat ke Canada untuk melanjutkan sekolah sekaligus bergabung kembali dengan suami.


 


Tahun demi tahun berlalu.   Sampai akhir tahun 2004, Bapak-Ibu saya telah menjadi kakek nenek bagi tiga anak saya dan dua keponakan saya.  Bapak-Ibu sangat menikmati hari-hari berkumpul dengan para cucu.  Suatu kali ibu mengeluh rhematiknya yang seringkali menghalangi kegiatan ibu sehari-hari.  Saat itu sore hari, saya berada di rumah ibu untuk menjemput anak-anak saya yang mengaji di TPA yang diasuh Bapak.  Tiba-tiba saja kedua anak laki-laki saya plus dua keponakan yang juga laki-laki, menyerbu masuk rumah berebut untuk mencium pipi Ibu.  Saya melihat ketika itu ibu bahagia sekali, seakan hilang rasa sakit dikakinya.


 


 


Kamis,  Agustus 2006, 17 tahun kemudian


Pagi hari


 


Disinilah saya berada sekarang.  Bersama suami dan anak-anak, kembali berada jauh dari kampung halaman, menuntut ilmu ke negaranya Tony Blair.   Saya harus bangun pagi sekali hari ini untuk menyelesaikan draft laporan yang belum rampung, meskipun saya sudah menunda tidur sampai lewat tengah malam.  Suami saya yang juga sedang dikejar  deadline ikut menemani saya bangun lebih cepat.  Seusai shalat shubuh kami saling mengucapkan selamat dan syukur atas masa 17 tahun yang telah kami jalani bersama.  Tak ada hal lain yang istimewa.  Jam 9.00 pagi saya punya jadwal pertemuan dengan pembimbing saya.


 


Debaran jantung yang lebih cepat justru muncul untuk putri sulung saya, Dalila.  Sejak malam hari dia sudah gelisah menunggu pagi.  Hari ini nilai GCSE-nya diumumkan. Dia kuatir sekali kalau nilai matematikanya tidak dapat B, karena itu syarat minimal untuk mengambil subjek math di A-level September nanti.


 


Saya baru saja meninggalkan kantor sang pembimbing ketika Dalila memberi kabar.


 


“ Alhamdulillah, Bunda.  Nilai Math-nya malah lebih baik dari yang diharapkan.  Science juga dapat nilai bagus.  Hanya English-Literature yang dapat nilai minimal lulus”


 


Alhamdulillah, hati saya meluap gembira.  Saya jadi teringat lagi pada Bapak-Ibu.  Kini saya semakin memahami perasaan mereka dulu terhadap kami ketika saya dan adik-adik masih berkumpul .


 


 


Kamis, Agustus 2006


Malam hari.


 


Diantara kesibukan saya menulis report  yang harus dikumpulkan minggu depan, saya mengenang kembali 17 tahun masa yang terentang sejak kebahagian keluarga kami menyebar dari Jl. Tanoh Abee 16, Kp. Mulia Banda Aceh.


 


Suka duka, pahit manis-nya membangun rumah tangga, Alhamdulillah dapat kami jalani dengan penuh rasa syukur.  Saya dan suami berusaha untuk selalu saling mendukung dalam menjalani setiap aktivitas yang kami pilih.  Alhamdulillah, anak-anak saya juga sangat supportif terhadap kesibukan kami berdua saat ini.  Insya Allah perjuangan kami saat ini bisa menjadi teladan bagi mereka untuk tidak cepat berputus asa, meskipun usia kami berdua sudah tak muda lagi.


 


Namun tak dapat dipungkiri rasa duka yang dalam masih saja mengintip.  Hari ini 17 tahun setelah kedua orang tua plus keluarga saya dan suami menyambut gembira pernikahan kami, mereka semua sudah tiada.  Tak ada lagi rumah tempat kami berdua memulai hidup baru, tak ada lagi mereka yang menyambut saya sebagai anggota keluarga baru, ketika pertama datang sebagai menantu. Saya kini bahkan tak punya lagi tempat pulang saat lebaran tiba.  Kadang saya masih terasa bermimpi bahwa Bapak-Ibu, adik-adik saya plus ipar plus keponakan telah pergi menghadap-Nya, ketika tsunami menyapu kota kami 26 Des 2004 lalu.


 


Takut kembali larut dalam duka, saya menarik diri kembali ke masa kini. Di meja sebelah, suami saya sedang konsentrasi penuh memandang komputer di depannya. Inilah lelaki yang telah mendampingi saya menjalani hari, merajut cinta dan cita selama 17 belas tahun terakhir.  Insya Allah, kami selalu berusaha tidak akan mengecewakan harapan orang tua kami  demi masa depan keturunan mereka yang masih tersisa. Amin.


 


Agustus, 2006