Showing posts with label tsunamiinmemoriam. Show all posts
Showing posts with label tsunamiinmemoriam. Show all posts

Thursday, January 6, 2011

Catatan Desember

Desember.   Hari ini enam tahun lalu.  Allah menguji  teramat berat.  Dengan kehilangan mereka yang teramat dekat.

Sampai hari ini  tak pernah lupa. Wajah mereka masih saja terbayang di pelupuk mata.  Suara mereka masih terngiang di telinga.  Ya..mereka masih tetap ‘hidup’ di hati saya.

 

Sudah lama saya mengikhlaskan semuanya.  Meski satu tanya selalu meronta di hati.  Dimanakah kubur Ayah dan Bunda?

Hari ini saya sengaja mengenang kembali . Membiarkan air mata menetes  membasahi meja.  Bukan karena memelihara duka.  Bukan pula ingin  menimbun lara.  Tapi karena rindu dan cinta.  Untuk mereka yang tak pernah sirna.

Hidup memang terus berjalan.  Pesan Ayahanda Insya Allah tak terlupakan. ‘ Tetap lah semangat menghadapi tantangan.   Tidak menyerah menghadapi rintangan.  Tambahkan doa untuk semua usaha.  Serahkan semua pada Allah semata’.

Hari ini.  Seperti juga hari kemarin.  Tak putus doa untuk semua.   Untuk mereka yang telah tiada.  Semoga Allah mengampunkan dosa.   Memberikan tempat yg layak bagi mereka.  Sebagai syuhada pengisi surga.  Amin.

 

Terkenang selalu

Mereka yang senantiasa menerbitkan rindu

Ayahanda H. Teuku Harun Al Rasyid

Ibunda H. Djauharah Ahmad

Adinda Suzanna Rabfianni

Adinda Iskandar Agus Harsadi

Adinda Lisa Amanatillah

Ananda Izzan dan Rizqy

Ibunda Saidah Raden

Adinda Rahila Yusuf

Ananda Jihan, dek Gam, dan Oja

 

(Leeds, 26 Desember 2010) 

Doa saya juga untuk semua kerabat, teman, tetangga..yg telah mendahului kami di pagi ahad 6 tahun lalu. 

Lily

Sunday, January 24, 2010

Banda Aceh, 5 tahun kemudian..

Kalau Anda berkunjung ke kota Banda Aceh hari ini, tak banyak yang tersisa dari musibah besar lima tahun lalu.  Menyusuri jalanan kota, Anda tak akan tahu kota ini pernah porak poranda, dengan jalanan penuh puing dan tubuh tak bernyawa di mana-mana.

 

Banda Aceh hari ini, adalah jalan-jalan yang mulus beraspal beton dengan padatnya kendaraan berseliweran, yang menyumbang akan kemacetan kota.  Suatu hal langka lima tahun yang lalu.  Banda Aceh hari ini adalah kota yang menggeliat dan bangkit kembali dari perihnya hantaman gelombang di hari Ahad akhir tahun 2004..

 

Banda Aceh hari ini adalah kota dengan beragam jualan makanan dari seluruh pelosok negeri, bahkan pelosok dunia.  Banda Aceh hari ini adalah kota yang telah ditinggalkan oleh para expatriat dunia, setelah ikut membantu menata kehidupan masyarakatnya.  Banda Aceh hari ini adalah kota dengan penduduknya yang cenderung menjadi kapitalis.., menilai segala sesuatu dengan materi semata.

 

Banda Aceh kini bisa dinilai dari banyak sisi.  Setiap orang tentu saja boleh  punya pandangan berbeda.  Dan kalimat-kalimat di atas adalah sedikit dari apa yang saya rasakan hari ini akan kota kelahiran saya, kota tempat saya kembali kemanapun saya pergi.  

 

Suasana berbeda baru terasa kalau kita menyusuri lokasi yang dekat dengan pantai.  Di pantai Ulee Lheue misalnya.  Ini adalah lokasi pelabuhan laut baru yang dibangun pasca tsunami.  Sebelumnya, Ulee Lheue padat dengan rumah penduduk dan kehidupan khas nelayan. 

 

Kini semua tidak ada lagi.  Tidak ada izin membangun rumah kembali di bibir pantai ini.  Namun kalau Anda jeli melihat.., di antara bangunan pelabuhan baru, di antara restoran yang menjamur tumbuh di sana, terselip sisa tangga dari sebuah rumah, terselip keramik biru sisa kamar mandi dari rumah yang disapu gelombang kala itu. Suasana yang sama juga akan kita jumpai di desa-desa lain yang dekat dengan pantai.

 

Bagi Anda yang baru pertama berkunjung, melihat sisa tangga atau kamar mandi seperti itu mungkin tidak banyak artinya.  Tapi bagi saya yang lahir dan besar di kota ini, melihat semua itu membuat saya membayangkan kehidupan di sana sebelumnya.  Sentimentil sekali kah saya ?  Apa boleh buat. Itu memang tak terhindarkan.

 

Bagi saya pribadi menyusuri kota setiap saat adalah ibarat hidup di dua dunia, masa lalu dan masa kini.  Kemanapun saya pergi, selalu megingatkan saya akan keberrsamaan saya dan orang tua plus adik-adik di waktu dulu.  Tinggal sekota membuat kami punya banyak kesempatan untuk selalu bersama di berbagai kegiatan, dan hal inilah yang ternyata seringkali menarik saya ke masa lalu. 

 

Terkadang, saat memasuki rumah adik saya di Kp Mulia, terbayang kembali rumah masa lalu kami, rumah tempat kami selalu berkumpul di berbagai suasana.  Benar, di sanalah rumah orangtua saya berada, sebelum hempasan gelombang yang membuat rumah penuh cinta itu luluh lantak.  Kini di lokasi tersebut sudah berdiri rumah baru, rumah yang juga penuh cinta dari tiga bidadari pengisi kehidupan kami, ipar dan keponakan saya -generasi baru pasca tsunami.

 

Tidak mudah menguraikan rasa akan kota saya saat ini.  Di satu sisi, saya bangga akan penduduknya yang sudah bangkit dari kepedihan masa lalu, menata hidup kembali ke masa depan.  Di sisi lain, kadang saya bertanya.., sudah lupakan kita semua akan peristiwa pagi itu ?  Ketika beratus ribu nyawa terbang menghadap yang Kuasa, ketika harta benda tak ada lagi nilainya, ketika kiamat seakan begitu dekat.

 

Mereka yang tiada bukanlah sekedar angka yang sering dicatat saat membuat proposal, mereka bukanlah sekadar data statistik pengukur jumlah korban.  Mereka adalah jiwa dan kehidupan yang beredar di kota ini sebelumnya.  Mereka adalah orangtua, anak, adik, kakak, cucu, saudara, tetangga, atau teman bagi kita yang ditinggalkan.  Kepergian mereka sedikit tidaknya telah menjadikan apa dan siapa kita hari ini.  Diakui atau tidak kepergian mereka justru membawa berkah bagi sebagian dari kita.  Suatu kenyataan yang kadang teramat pahit untuk saya rasakan.

 

Diantara kepedihan akan kehilangan mereka yang tercinta, di antara jalan-jalan kota yang selalu saya lewati.., Insya Allah saya tak akan lupa, bahwa kehadiran mereka di masa lalu telah mengantarkan saya sampai ke hari ini.

 

 

Banda Aceh,26 Desember 2009

Friday, December 26, 2008

Kata Hati: I am not that strong

 

Desember menjelang lagi.   Empat tahun terakhir ini bulan Desember selalu menarik saya kembali pada kejadian akhir tahun 2004 lalu. Saat waktu seakan berhenti untuk saya.  Entah sampai kapan saya akan merasakan hal seperti ini.  Lantas dimanakah saya berada kini ?  Ini pertanyaan rutin bagi diri saya sendiri setiap akhir tahun

 

Sejak masih di Leeds sampai sekarang setahun sesudah kembali ke kampung halaman, saya sering mendengar komentar teman-teman bahwa begitu kuat dan tabahnya saya menghadapi musibah yang telah membawa hampir semua keluarga besar saya kembali kepada-Nya.

 

 

Benarkah demikian ?  Kadang saya terbebani juga dengan komentar mereka.  Secara fisik mungkin tak banyak orang yang tahu saya masih menyimpan duka yang teramat dalam.  Habis, saya masih suka ber ha...ha..hi..hi sana sini kalau lagi ngumpul dengan teman-teman.  Semangat saya masih cukup tinggi untuk terus belajar berbagai hal. Saya juga tak kurang semangat untuk mengajar dan berdiskusi dengan mahasiswa.   Belum lagi berat badan saya yang naik terus sejak pulang ke tanah air.  Itu kan berarti saya bisa makan enak.  Masa sih saya masih sedih ?

 

 

But believe me my friends.  I am not that strong.  Saya masih saja tersedak dan kehilangan selera makan saat di suatu hajatan bertemu teman alm Ibu yang dengan wajah polos bertanya bagaimana kabar ibu saya.

 

Air mata saya masih mengalir tak terasa setiap melewati jalan-jalan atau lokasi yang sering saya datangi bersama alm adik-adik saya dulu. 

 

Saya masih saja merasa sesak saat bertemu teman-teman alm adik-adik saya di kampus.  Saya sering terhenyak tak mampu berbicara ketika anak-anak saya dengan riangnya bercerita tentang kenangan manis bersama kakek-nenek mereka dulu.  Tentang Bunda cut (pangilan mereka untuk alm dik Susy) dan Abit (alm dik Adi) yang begitu penuh perhatian kepada mereka.

 

 

Saya masih sering sedih  setiap mendengar ucapan bahwa tsunami telah banyak membawa hikmah bagi Aceh.  Malah ada yang berkata tsunami adalah rahmat bagi orang Aceh.

 

 

Bukan saya mengelak dari kenyataan bahwa setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.  Saya hanya sulit sekali menerima bahwa seakan-akan kesedihan akan  begitu banyak  kematian orang di Aceh dapat dihapuskan begitu saja dengan banyaknya materi yang mengalir ke daerah saya.   Bagi sebagian orang, korban tsunami mungkin hanya sekedar angka dan data statistik yang dimunculkan bila perlu.   Tapi bagi saya mereka adalah jiwa orang-orang yang begitu saya kasihi dan cintai.

 

 

Saya dan adik saya, Haris, sampai kini tak pernah lagi menyinggung kejadian hari itu.  Kami seakan memilih untuk bercerita hal lain yang tidak membangkitkan kenangan akan hari-hari pahit pasca tsunami dulu.

 

Bukan saya tidak berusaha untuk menghapus duka.  Si Abang selalu mengingatkan saya, sudah waktunya bagi saya untuk bisa mengingat mereka yang telah tiada dengan hati yang ringan dan riang, demi kenangan indah saat masih bersama dulu.  Ingat masa-masa manis dan bahagia bersama mereka dulu !  Itu kata si abang selalu saat berpaling kepadanya ketika rasa duka begitu menyeruak dari hati saya.

 

 

Saya berusaha dan berdoa.  Lebaran lalu, saya memutusakan untuk menggantung foto terakhir kami empat bersaudara.  Foto itu diambil saat Idul Fitri akhir tahun 2002.  Walaupun terkadang saya masih terpaku sedih setiap memandang foto tesebut, si Abang menguatkan saya bahwa saya pasti bisa mengatasinya. 

  

Saya lebih memilih untuk pergi menghindar atau setidaknya tak berkomentar apapun setiap ada obrolan tentang hari Minggu 26 Desember 2004 lalu.  Saya baik-baik saja selama pikiran dan hati saya tak terbawa kepada mereka yang telah tiada.

 

 Jadi di sanalah saya masih berada kini.  Saya tidak tahu kapan saya pindah ke level selanjutnya.  Saya tidak tahu butuh berapa lama lagi bagi saya untuk bisa ‘normal’ seperti duluuuu sekali.  Atau akankah waktu itu tiba ?  Kepada Allah jua saya berserah diri.

 

 

Banda Aceh, 4 Desember 2008

 

Tuesday, March 6, 2007

Catatan satu tahun: akankan luka hati pulih kembali ?

January 2006

 

Pertengahan Desember lalu, saya pulang ke Banda Aceh selama 2 minggu, memanfaatkan waktu libur akhir tahun disela jadwal kuliah yang sangat padat.  Kepulangan saya kali ini semata untuk mendampingi adik saya satu-satunya menata hidupnya kembali, sekaligus mengenang kejadian setahun lalu.  Alhamdulillah, adik saya telah menemukan jodohnya kembali.

 

Perjalanan saya kali ini tidak gampang, waktu saya lebih banyak habis di jalan dan hanya 6 hari sempat di Banda Aceh.  Ceritanya, adik saya menikah di Tapak Tuan, ibu kota Kab Aceh Selatan.  Dulunya dibutuhkan waktu sekitar 10 jam naik bus dari Banda Aceh menyusuri pantai barat Aceh untuk menuju ke sana.  Sekarang, jalan-jalan di pantai barat sampai kota Lamno telah hilang dihempas tsunami.  Untuk menuju ke sana kita bisa menyusuri pantai timur sampai di Geumpang (Kab. Pidie), kemudian membelah P. Sumatera menuju Meulaboh (Kab. Aceh Barat), baru melewati jalan biasa ke Tapak Tuan.  Tapi, saya dingatkan untuk tidak mengambil resiko, karena kalau hujan jalan pintas di Geumpang bisa sangat jelek. 

 

Lantas bagaimana saya harus ke Tapak Tuan ? Dua kali seminggu ada pesawat SMAC kecil berbenumpang 16 orang terbang dari Banda Aceh ke sana.  Aduh..nggak berani, soalnya pesawatnya terbang rendah....  Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Tapak Tuan melalui Medan.  Apa boleh buat, harus menyebrang Provinsi lain dulu.  Dari Medan kami butuh waktu lebih 12 jam sampai ke Tapak Tuan, plus 4 jam salah jalan hampir tiba ke Kutacane (Ibu kota Kab. Aceh Tenggara).

 

Sungguh perjalanan yang penuh tantangan dan melelahkan.  Walaupun demikian, saya gembira melihat adik saya begitu senang bertemu saya lagi.  Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

 

Berikut saya tuliskan gambaran hati saya dalam perjalanan pulang saya kali ini.  Sekali lagi tulisan ini adalah ungkapan rasa hati saya, karena itu bisa jadi sangat pribadi sifatnya.  Mohon maaf bila kurang berkenan.

 

Leeds, 9 Januari 2006

Dengan segala kerendahan hati,

Lily

 

 

 


Doa dan rindu:  untukmu Ayah-Ibu

 

Rinduku

Terasa dalam menghujam kalbu

Dukaku

Tak juga mau berlalu

 

Ayah Ibu

Suaramu masih terngiang di telingaku

Doamu masih menggenggam erat hatiku

Mengiringi setiap langkah hidupku

 

Tuhanku,

Ampuni dosa ayah ibuku

Sayangi mereka selalu

Seperti mereka menyayangiku dulu

 

Tuhanku,

Ampuni dosa semua saudaraku

Mereka yang kembali menghadap-Mu

pada hari Ahad setahun lalu

 

Tuhanku,

Ampuni ketidak-mampuanku

Melupakan  kelabunya hari itu

Menghapus lara di dalam kalbu

 

Tuhanku,

Kuatkan  hati dan juga jiwaku

Untuk menatap  hari  depanku

Untuk membimbing anak-anakku

Untuk mendampingi suamiku

Untuk menemani satu-satunya adikku

 

  

Leeds, awal Desember 2005

Ketika rindu begitu menggebu…

 

 

 

 

Doa dan cinta : untukmu adinda

 

Adikku,

Kita pernah memiliki hidup yang sangat indah

orang tua yang penuh cinta,

adik-adik yang membanggakan,

keluarga yang penuh rasa kasih

 

Adikku,

Tuhan memberi kita cobaan maha berat

Dia telah memanggil kembali semua milik-Nya

betapa dalamnya duka kita,

betapa berdarahnya hati kita.

 

Adikku,

bagimu, kepedihan  bahkan tak terperi

dalam sekejap mereka semua telah pergi,

isteri,

anak-anak,

ayah-ibu,

adik-adik….

Hati terasa terbelah

jiwa terasa amat goyah

 

Sementara nun di seberang benua,

satu-satunnya saudaramu yang tersisa

tak punya sayap untuk terbang menemani

berbagi saat berat ketika evakuasi

 

Dan ketika aku pulang  menjumpaimu,

dengan tatapan kosong engkau bertanya:

‘Cutkak, darimana Ais harus memulai hidup lagi ?’

Tak ada kata yang keluar dari mulutku,

aku hanya mampu menatap wajahmu,

menerawang menembus masa lalu…

 

Adikku,

kini  setahun telah berlalu

kembali kuseberangi benua

untuk datang mendampingi

Tuhan telah memberimu jalan

 untuk kembali tegak berdiri

Tuhan telah memberimu teman

  berbagi hari dan rasa hati…

 

Adikku,

rasa sejuk mengalir di hati

melihatmu tersenyum lagi

mengurangi duka yang belum beranjak pergi

  

Adikku,

hari-hari yang pernah kita miliki,

takkan mungkin datang  kembali.

Masa lalu kita,

kini hanya tinggal di dalam hati

bahagia yang pernah kita jalani,

ternyata juga milik Yang Maha Kuasa

Namun, aku tetap percaya

Tuhan akan  menolong kita,

selama kita selalu berusaha

menolong diri kita sendiri

 

Adikku,

mari genggam erat  tanganku

bersama kita ayunkan langkah

berharap masa depan yang lebih cerah…

 

Adikku,

dengan penuh tekad dan usaha

bersama kita panjatkan doa..

semoga Allah memberi kita

sisa usia penuh mulia…..

 

 

 

Tapak Tuan, 17 Desember 2005

Dengan doa dan cinta,

mengiringi pernikahan adinda Abdul Haris

 

 

 

 

Doa dan Rindu: untuk mereka yang telah tiada

 

 Hari ini

untuk kesekian kali di tahun ini

kukunjungi lagi pusaramu

tak ada rangkaian bunga untukmu

tak ada kata terucap di bibirku

hanya ada segunung rindu

 

Duhai

betapa  cepat waktu berlalu

seakan semua masih bersatu

 

terngiang seruan gembiramu di udara

‘Tadi Titi sudah viva, Kak.  Alhamdulillah Titi lulus’

 

terngiang ucapanmu ketika mengantarkanku di bandara

‘Cutkak, Adi buatkan cuplikan foto hari-hari kita dulu,

 untuk dipandang bila sedang rindu’

 

terngiang tanyamu penuh rasa sayang

‘Bagaimana anak-anak, Kak ?  Betahkah mereka ? Lisa jadi ingin ke sana juga ’

 

dan ketika dengan penuh bangga engkau berkata

‘Nyakwa, Izzan ngaji sudah halaman dua puluh tujuh.’  

‘Sebentar lagi mau EBTA’

 

Duhai,

Adinda Susy, Adi, dan Lisa,

juga ananda Izzan dan Rizqi

Disinilah engkau semua terbaring,

tak sempat aku mengantarmu

tak sempat  aku berucap sampai bertemu..

 

Lembaran hidupmu sudah berlalu

meninggalkanku yang masih terpaku

menatap pusara yang diam membeku

menata hati yang begitu pilu

 

Meski dunia memisahkan kita

kutahu selalu ada cinta

mengalir di antara kita

bahkan setelah engkau tiada

 

Masih kuterima bingkisan bahagia

yang kau kirimkan dari Malaysia

masih kuterima pesan berita

Banda Aceh baru diguncang gempa

 

Kutebar doa kupanjatkan harap

Semoga Allah memberimu tempat

disisi-Nya senantiasa

Semoga Allah menjadikanmu mulia

sebagai syuhada pengisi surga

 

Hari ini,

demi rasa cntaku padamu

kuusir duka dari sukmaku

kukuatkan hati untuk berseru

‘tak tsunami mematikan semangatku’

 

 

 Banda Aceh, 20 Desember 2005

Doa dan cinta selalu mengalir untukmu semua

 

 

 

Kunjunganku

 

Tanah luas terbentang rata

begitu sederhana

tak ada yang istimewa

hanya ada sedikit beda

mulai ada pelataran bunga

 

Disinilah tempat mereka

Ada berpuluh ribu jiwa

dikuburkan secara bersama

mereka yang pergi meninggalkan raga

 

Tak ada beda pria dan wanita

tak ada beda anak dan dewasa

tak ada beda pangkat dan harta

semua berkumpul di liang yang sama

 

Assalamualaikum ya ahli kubur..

Rasa hati sungguh tak terukur

memandang tanah yang terlihat subur

Kutundukkan wajah dengan terpekur

kukirim doa sepanjang umur

 

Terlihat olehku papan putih

bertuliskan tanda tempat terpilih

ada empat puluh enam ribu lebih

mereka yang terbaring tumpang tindih

tanpa punya waktu untuk memilih

 

Bergema lagi satu tanya

yang selalu hadir di dalam sukma

adakah engkau Ayah dan Bunda

ikut terbaring di sini jua ?

 

Tanyaku terlempar ke udara

tanpa pernah tahu jawabnya

dimanapun ragamu Ayah-Bunda

semoga Allah selalu menjaga

 

Semoga  engkau Ayah dan Bunda

menjadi syuhada pengisi surga

 

 

Lambaro, Banda Aceh, 21 Desember 2005

Kuburan massal, tempat mereka berbagi kubur

 

 

 

Mengenang pagi di rumah cinta

 

Tepat setahun rentang masa

sejak gelombang besar mengubah kota

sejak kapal laut menghantam kp mulia

 

Kutelusuri reruntuhan rumah kita

kutapaki lantai rumah cinta

istana masa lalu kita sekeluarga

 

Terduduk aku termangu di sini

kucoba untuk kuatkan hati

membayangkan kegiatan ahad pagi

ketika gempa hebat mengguncang bumi

ketika air laut menghempas tinggi

 

Apakah engkau  sedang menyiram tanaman, Ayah ?

Apakah engkau sedang mengagumi anggrek, Ibu ?

Apakah engkau sedang menyapu rumah, Susy ?

Apakah engkau sedang menyiapkan sarapan, Adi ?

Apakah engkau sedang sibuk dengan anak-anak, Lisa ?

 

Semua tanya hanya bergema

di dinding hati di ruang sukma

tak ada jawaban yang menyapa

karena mereka semua telah tiada

 

Di sini

di lantai rumah ruang keluarga

 kutemukan secarik nota

bertanda tangan ayah tercinta

Disini,

di lantai rumah ruang keluarga

terbayang kembali hari hari kita

duka, tawa dan bahagia

 takkan hilang ditelan masa

 

Ingin kubangun kembali

rumah cinta di tanah ini

tempat kami berkumpul lagi

bila rindu datang di hati

bila  tiba idul fitri….

 

 

Banda Aceh, 26 Desember 2005

Mengenang pagi mereka setahun lalu

 

 

Terima Kasih Saya Untuk Semua

 


 


 


 


 


Lima bulan telah berlalu sejak hari saya kehilangan begitu banyak orang yang saya cintai.  Terus terang, sejak hari itu 26 Des 2004, tak ada hari berlalu tanpa saya mengingat keluarga saya yang telah tiada. Dan apa boleh buat, sejak kembali ke Leeds awal Februari lalu, saya belum mampu menghentikan air mata yang mengalir setiap saya mengingat mereka.  Kesedihan saya kini bukan saja karena mengingat semua yang telah tiada, tapi juga mengingat adik saya Haris harus sendiri menjalani hari yang masih terasa  amat berat untuk dijalani.


 


Sampai sekarang kami masih saja menghitung siapa saja yang telah tiada diantara kerabat dan teman-teman kami di Banda Aceh.  Selain kehilangan Bapak-Ibu, adik-adik, adik ipar dan keponakan, saya juga kehilangan keluarga adik laki-laki Ibu saya.  Mereka sekeluarga (dengan 4 anak ) hilang tak berbekas, baik jenazahnya maupun rumahnya.  Yang tersisa adalah seorang menantu dan 2 cucu yang saat itu berada di Medan.  Seorang sepupu saya, Erie, (anak mak Uti- kakak perempuan Ibu saya) sampai sekarang masih stress berat karena harus kehilangan istri dan anaknya di tangannya sendiri pada saat menyelamatkan diri 26 Des lalu.  Sepupu saya yang lain, Andri (putra adik perempuan Ibu saya) yang sebaya dengan almarhum dik Adi  juga raib entah kemana, sementara mobilnya ditemukan tersangkut di sebatang pohon  di sekitar Mesjid Raya Baiturrahman.  Saat ini dalam generasi Ibu saya, kami masih mempunyai satu kakak dan satu adik Ibu (Bapak kami anak tunggal dan berasal dari kota lain).


 


Di pihak suami, kami harus bersyukur bahwa kecuali Ibu, satu adik perempuan plus 2 anaknya, ke-5 adik suami saya yang lain selamat bersama keluarganya masing-masing.  Namun kami baru menyadari ternyata dalam generasi Ibu dan Bapaknya, suami saya tak punya lagi siapapun yang  tersisa.  Keluarga suami saya berasal dari desa-desa sepanjang pantai di Kecamatan Meuraksa.  Kecamatan ini bisa dikatakan rata dengan tanah.  Kebanyakan yang selamat adalah mereka yang tidak berada di rumah saat gelombang tsunami menerjang |B. Aceh..  Jadi di antara sepupu-sepupunya yang selamat, suami saya kini termasuk yang paling tua dalam keluarga besarnya.


 


Saya sadar hidup berjalan terus, tidak sseharusnya saya selalu bersedih mengingat mereka.  Saya tahu saya tak akan pernah bisa melupakan mereka, dan sesungguhnya saya sedang berusaha agar bisa mengingat mereka tanpa duka.  Seperti kata suami saya, ' kita mungkin tak akan pernah bisa melupakan apa yang telah terjadi,  namun we have to learn how to live with it. That is part of our life'


 


Kami beruntung mempunyai teman-teman yang selalu memberi semangat dan perhatian sejak hari musibah sampai kini.  Sungguh ini adalah karunia Allah kepada kami sekeluarga juga untuk Haris adik saya.   Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus untuk semua.  Untuk teman-teman di Leeds: trims berat atas segalanya.  Untuk Kang Asep sekel, dan Bu Soes di Bogor: terima kasih untuk segala bantuan dan semangatnya yang tetap mengalir sampai kini.  Untuk teman-teman kuliah saya di Bogor dulu: ternyata waktu tidak berhasil membuat kita saling melupakan.  Untuk Sudaryanto di Jakarta: terima kasih untuk persahabatannya dalam suka dan duka. It means a lot to me.  Untuk teman-teman kost saya dulu...terima kasih atas segala perhatiannya.  Untuk Rina di Kyoto: K li masih butuh waktu....  Untuk P Hasan di Banda Aceh: bagaimana saya harus mengutarakan rasa terima kasih saya ?  Untuk P Husni: mudah-mudahan saya bisa setabah Anda (maafkan saya tidak aktif di jurusan saat ini). Untuk P Yoni dan Bu Aike, trims atas kunjungannya ke Shay Street..yang meringankan hati kami.   Dan untuk semua yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu


 


Saya juga bersyukur, almarhum adik saya Susy mempunyai teman-teman yang luar biasa di Penang, bahkan setelah Susy tiada... mereka masih tetap mengulurkan persaudaraan melalui saya.  Terima kasih untuk Ame yang masih terus menangani urusan Susy.  Trims untuk Wina dan Irin yang telah mengirimkan foto kenangan bersama Susy, saya tunggu foto lainnya.  Juga untuk Pedy..kapan Viva-nya ?  Mudah-mudahan silaturrahmi kita tidak berhenti di sini.   Untuk Oman: trims atas perhatian untuk susy dan kini untuk saya, seperti pernah saya tuliskan: ternyata Allah Swt punya rencana lain untuk Susy


 


Saya juga merasa sangat bersyukur Haris mempunyai tema-teman yang  sangat memperhatikannya.  Keaktifannya di IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) ternyata kini menjadi penopang dan pembangkit semangat hidupnya kembali.  Teman-temannya di Yogya (tahun 2000-2002 Haris tinggal di Yogya untuk sekolah lagi di UGM) dan juga di Jakarta bahkan ada yang mengunjungi kami ketika saya di Banda Aceh Januari lalu.  Beberapa atlit silat dari kota lain di Aceh bahkan bersedia bergantian mendampingi Haris sehari-hari sejak saya kembali ke Leeds .  Alhamdulillah Haris kini sudah mampu berjalan sendiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari, meskipun untuk hal-hal tertentu dia tetap mencari teman untuk menemaninya.


 


Sebagai informasi berikut saya tuliskan sedikit gambaran bagaimana kehidupan adik saya Haris kini  (mungkin begitu juga banyak korban selamat lainnya di Banda Aceh).


 


 Haris saat ini berada di Banda Aceh setelah dua minggu berada di Yogya awal Maret lalu., dan seminggu berada di Jakarta pertengahan Mei kemarin.  Haris kini tinggal di rumah saya (Alhamdulillah rumah kami luput dari terjangan tsunami) bersama keluarga adik suami saya.  Dia sudah mulai masuk kantor tempat dia bekerja yaitu di Dinas Prasana Wilayah Prov NAD (saya lebih suka menyebutnya  Dinas PU) meskipun belum sepenuhnya aktif kembali.  Menurut teman saya yang bertugas di  Aceh sejak awal april lalu (Dr Mukhtar-PPI Leeds), yang sempat menemui Haris , walaupun masih menyimpan duka amat dalam, secara mental Haris terlihat cukup kuat. Saya berdoa agar Haris tetap kuat dan mampu meniti hidupnya kembali, meskipun dia belum tahu harus mulai dari mana.


 


 Sehari-hari kini, Haris lebih banyak menghabiskan waktu di Kp Mulia, di Mesjid  Al-Anshar, mesjid setengah jadi (sebelumnya adalah Mushalla Al-Anshar yang berjarak sekitar 200 m dari rumah) dimana orang tua saya terlibat penuh dalam pembangunannya.  Di sanalah Bapak dan Ibu saya shalat wajib setiap waktu.  Berada di mesjid ini membuat Haris merasa dekat dengan Bapak-Ibu, membuat dia merasa selalu dekat dengan Lisa dan anak-anak. Haris juga sering terlibat dalam membantu alokasi bantuan barang untuk warga Kp. Mulia, meskipun kadang dia tak bisa menahan emosi bila berjumpa dengan teman-teman orang tua kami yang ternyata selamat.


 


Selain itu kegiatan Haris kini adalah mengurus peninggalan amarhum dan almarhumah keluarga kami.  Sebagai ahli waris satu-satunya (yang berada di B.Aceh kini) mau tidak mau Haris harus mengurus semua hal yang berkaitan dengan keluarga kami.  Karena isterinya dan adik-adik kami adalah pegawai negeri, maka hal pertama yang harus diurus adalah yang berkaitan dengan administrasi kepegawaian.  Hal ini butuh energi dan ketahanan mental yang kuat.  Selain harus berhadapan dengan birokrasi yang terkadang bikin naik darah, Haris juga harus berjuang menahan emosinya sendiri yang selalu mencuat ketika berhadapan dengan apapun yang berkaitan dengan almarhum dan almarhumah keluarga kami.   Ini terjadi terutama ketika mengurus hal-hal yang berkaitan dengan Lisa istrinya.  Karena itu dia cenderung menundanya, menunggu dia merasa lebih kuat  menghadapi semuanya.


 


Sebagai gambaran , untuk mengurus  administrasi pensiun Bapak misalnya (Bapak kami adalah pensiunan pegawai negeri).  Karena Bapak hilang, urusannya lebih rumit, Haris harus melapor ke kantor polisi dan minta dibuatkan surat keterangan orang hilang.  Ini tidak gampang, karena terkadang pihak polisi bertanya hal-hal yang tak bisa dijelaskan, seperti: ‘ Dimana hilangnya ?  Apa ada kemungkinan masih hidup ?’  Saya bisa mengerti kalau Haris kadang jadi kesal ditengah kesedihannya melaporkan Bapak yang hilang entah kemana.  Sesudah  surat keterangan dari kantor polisi  didapat, Haris harus membuat lagi surat keterangan yang dikeluarkan oleh Lurah Kp. Mulia yang harus ditanda-tangan oleh camat juga.  Dalam keadaan biasa, mengurus surat-surat begini sudah begitu menyita waktu.  Apalagi sekarang ?  Pada saat lurah dan camatnya sendiri berpindah-pindah di pengungsian.


 


Saat ini Haris berstatus sebagai pengungsi  dan korban selamat dari terjangan tsunami.  Karena rumahnya dan harta benda lain tak bersisa, dia berhak untuk mendapatkan ‘jadup’ (tunjangan hidup) dari pemerintah sebesar Rp. 90.000/ bulan.  Untuk ini setiap pengungsi harus didata dan dibuatkan kartu pengenal plus pas photo yang diambil langsung di tempat pendataan.  Untuk mengurus hal ini saja Haris (dan juga yang lainnya) harus bolak-balik  ke kantor camat tanpa ada jadwal jelas kapan pedataan dilakukan.  Kini setelah pendataan selesai, Haris dan warga Kp. Mulia yang lain belum juga mendapatkan kartu jadup , apalagi uang jadup yang dijanjikan pemerintah, semuanya masih sebatas janji.  Lewat telpon kadang Haris bercerita kepada saya, bahwa dia lelah mengurus semua hal yang berhubungan dengan statusnya sebagai pengungsi, namun bila tidak diurus..datanya sebagai korban akan terhapus…  Kalau ini terjadi, akan sulit bagi Haris ke depan bila dia membutuhkan bantuan.


 


Cerita Haris yang lain adalah tentang lokasi rumahnya dan rumah orang tua kami.  Menurut Haris, lokasi rumah sudah dibersihkan dari puing, dan kini tanah keluarga kami tersebut sudah diberi pagar.  Haris berencana untuk menghancurkan sisa bangunan rumahnya, sedangkan sisa bangunan rumah Bapak-Ibu masih akan dibiarkan, karena konstruksinya masih cukup bagus.  Sebenarnya saat ini sudah ada bantuan pembangunan rumah untuk warga Kp. Mulia.  Pembangunan rumah berukuran 36 m2  sudah dimulai sejak beberapa minggu lalu, namun Haris masih belum mendaftar untuk mendapatkan bantuan ini.  Haris bilang kepada saya: ‘Biarlah rumah itu dibangun bagi yang lebih membutuhkan dulu, sedangkan Ais kan cuma sendiri, dan masih bisa numpang di rumah Cut Kak’ 


 


Saya menerima tawaran bantuan dari banyak teman. Terima kasih atas perhatiannya.  Saya belum tahu bantuan dalam bentuk apa yang sangat kami butuhkan segera.  Namun yang jelas sementara ini tolong bantu kami sekeluarga plus Haris, dan seluruh masyarakat Aceh yang tertimpa musibah agar kami tetap tabah menjalani takdir Allah ini


 


Hidup saya memang penuh warna.


Dan tak selalu warnanya seindah pelangi.


 


Kalau saat ini hidup saya berwarna kelabu,


seperti mendung tebal menggantung di langit..


(Saya harap) itu tetap ada artinya


 


Bukankah mendung pertanda hari akan hujan ?


Bukankah hujan senantiasa membawa berkah di bumi,


terutama setelah kemarau panjang ?


 


Life goes on.  Insya Allah..saya, suami, anak-anak plus Haris…bisa  berbuat sesuatu di masa depan demi bangkitnya B. Aceh kembali..demi kenangan untuk mereka yang tercinta..yang telah tiada.


 


 


Mohon maaf bila kurang berkenan,


 


Leeds, 26 Mei 2005


Dengan rasa terima kasih tiada terhingga,


Lily