Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Friday, July 10, 2009

Irham's Big Step....

Kalau si bungsu saya, Ilman, sudah bisa menjawab dengan yakin akan cita-citanya, Irham si tengah..memang masih pikir-pikir mau jadi apa kelak.  Walaupun demikian, Irham tahu pasti mau sekolah dimana usai SMP tahun ini.  Dia mau melanjutkan  SMA-nya di United World College (UWC) di Singapore ! ( ini alamatnya )   Dari mana ide ini muncul ?

 

Keinginan Irham ini bermula awal 2008 lalu ketika beberapa student dari College terkemuka ini berkunjung ke Banda Aceh dan mengadakan semacam workshop bagi sejumlah pelajar dari seluruh SMP negeri di Banda Aceh.  Bersama beberapa teman dari sekolahnya, Irham kebetulan ikut menjadi peserta workshop yang berlangsung selama 3 hari itu.

 

 

Usai workshop tsb dia selalu mengatakan pengen sekali sekolah di sana.  Sambil lalu saya menjawab kalau kami gak bakalan sanggup membiayainya ke sana.  ‘Don’t worry, I am going to get a scholarship for that’, balas Irham.   Terus terang saya yang sejak awal memang tidak begitu tertarik memasukkan anak-anak ke boarding school saat usia SMA, tidak begitu memperhatikan keinginan Irham ini.

 

 

Suatu hari di awal bulan Desember 2008, saat pulang sekolah Irham menunjukkan formulir pendaftaran untuk UWC plus seabreg persyaratan untuk mendapat beasiswa ke sana.  Dibantu ayahnya dengan serius Irham mengisi semua formulir untuk persyaratan administrasi. 

 

Akhir Desember Irham mendapat panggilan test tertulis, rupanya dia dinyatakan lolos saringan administrasi.   Terus terang saya belum bisa melepaskan Irham sekolah jauh begitu, namun saya juga berpikir biarlah Irham ikut tes, bisa menjadi pengalaman baginya.   Yang ikut test begitu banyaknya , belum tentu Irham bisa lulus.

 

 

Seminggu kemudian, bersama 7 peserta lainnya Irham dinyatakan lulus ujian tertulis beberapa pelajaran pokok.  Saat itu saya..baru tersentak.  Wah…gimana kalau Irham lulus wawancara nanti ?  Ketika kegundahan hati saya lepaskan ke si Abang, dia menenangkan saya dengan mengatakan kita lihat saja nanti.  Toh Irham belum tentu lulus.

 

 

Awal Januari 2009, selama dua hari penuh Irham mengikuti psikotest, test kesehatan, dan wawancara yang langsung dilakukan oleh beberapa guru dari UWC Singapore plus pihak Sampoerna Foundation sebagai pendamping di Indonesia.

 

Setelah semua test belalu, esoknya saya bertanya pada Irham:  ‘Let say..you pass all the test, and chosen to be the winner for scholarship.  How do you feel about it, Bang Awam ?.  Dengan riang Irham menjawab:  ‘I will be very happy of course’.

 

 

Irham tahu persis, saya belum mengiyakan dan menyatakan setuju penuh untuk dia sekolah ke Singapore.  Dengan serius saya kemudian melanjutkan:’ How about if I say that you cant go ?’.   Ini bukan pertanyaan gampang untuk dijawab, saya tahu itu.

 

 

Dibandingkan kakak dan adiknya, Irham mempunyai pembawaan yang lebih tenang, tidak selalu gampang dibaca keinginannya, dan lebih suka mengalah dalam situasi sulit.

Tak perlu lama bagi Irham untuk menjawab pertanyaan saya: ‘I wont go if you are not happy, mum.  I will give the chance to the second place to go’..   Saya hanya terdiam dan tidak lagi menyambung diskusi sore itu.  Beasiswa ke UWC ini memang hanya untuk satu orang.  Berarti peluang Irham adalah 1/8 dibandingkan seluruh peserta yang tersisa.

 

Dua bulan berlalu, diskusi tentang sekolah ke Singapore tak lagi bergema di rumah kami, sampai awal Maret lalu, Irham membawa pulang selembar fax dari sekolahnya.  Tak terlihat keriangan berlebihan di wajahnya.   Di mata saya dia biasa-biasa saja saat mengatakan:  ’ I got the scholarship, mum’ sambil menunjukkan lembaran fax yang dipegangnya.

 

Seharusnya saya gembira akan keberhasilan Irham.  Tapi saya kalah dalam menyembunyikan perasaan dibandingkan Irham.  Dia tahu saya berat sekali untuk melepasnya merantau.  Ya..ampun, umurnya baru 14 tahun..!  Kalau dia di sana, betapa sepinya rumah tanpa kak lila dan Irham.  Tinggal Ilman yang di rumah. Bagaimana saya tidak sedih ?  ’Dont worry mum, if you dont want me to go there, I wont go...’

 

 

Kami diberi waktu seminggu untuk menyatakan kesediaan menerima beasiswa untuk Irham.   Keputusan harus diambil segera.  Dengan tegas si Abang menyatakan dia gembira dan mendukung kelulusan Irham.  Namun kalau itu ternyata tidak membawa kebahagiaan bagi saya yang akhirnya berdampak timbulnya rasa tidak damai  dalam keluarga, sebaiknya kemenangan Irham ditolak saja.

 

 

Saya tidak mau menjadi Ibu yang egois dan hanya mementingkan perasaan sendiri.  Saya mencari tahu alamat penerima beasiswa tahun-tahun sebelumnya.  Saya mendatangi orangtua mereka dan bertanya ini-itu bagaimana pengalaman mereka melepaskan anak seusia Irham sekolah Singapore.

 

Kemudian setelah saya cukup info, tanpa ikut serta ayahnya, saya mengajak Irham berbicara.  Dengan hati-hati saya bertanya pada Irham apakah dia memang benar-benar ingin sekolah disana.  Sudahkah dia siap untuk mandiri jauh dari rumah.  Saya juga membayangkan pada Irham kesulitan yang mungkin  dihadapinya  kelak jauh dari rumah.   Irham terlihat sangat yakin akan keinginannya.

 

Akhirnya walaupun berat, saya mengatakan padanya bahwa dia boleh pergi.   Saat itulah dia bersorak gembira.  ’Thank you, mum.   I wont let you down’.   Dengan segera berita ini menyebar ke seantero rumah.   Ilman mendatangai saya.  ‘Don’t be sad, mummy.   You still have me at home for the next three years’.  Lho.., Ilman mau sekolah keluar juga ? 

 

 

Begitulah.., awal Juni kemarin Irham mengikuti orientasi seminggu di kampus UWC Singapore.  Saya tidak ikut mendampingi Irham, karena sedang training di Wageningen.  Si Abang mengantar Irham sampai Medan saja, kemudian melepas Irham terbang sendiri ke Singapore. ’Sekalian latihan’, jawab si Abang ketika saya protes.  Sabtu, 6 Juni kemarin si Abang menjemput kembali Irham di Medan.  Kali ini Irham juga harus terbang sendiri dari Singapore ke Medan.

 

 

Usai mengantar Irham naik pesawat ke Singapore minggu lalu, si Abang mengirim email sangat mengharukan untuk saya.   Ah.., Irham memang sudah besar....

 

 

 

 

Wageningen, 7 Juni 2009

Tuesday, June 24, 2008

‘Horee…, I am through ‘

Seruan gembira itu keluar dari mulut si bungsu Ilman, Sabtu pagi 21 Juni kemarin begitu melihat hasil raportnya.   Rupanya ucapan gurunya di kelas bahwa kalau nilai ujian mereka jelek bisa mengakibatkan mereka tinggal kelas, begitu mempengaruhi Ilman.  Sejak bagun tidur Sabtu pagi-pagi dia sudah beberapa kali bertanya pada saya dengan wajah kuatir: ‘ Will I go to year 6 ?’  Or ‘Will I stay in year 5 ?’

 

 

Alhamdulillah nilai yang tercantum di Raport Ilman dan Irham tidak mengecewakan.  Mereka berdua masuk 10 besar dalam kelas.   Untuk mereka yang baru 6 bulan kembali ke tanah air, keberhasilan ini cukup menggembirakan saya dan Ayah-nya. 

 

 

Sekolah Irham di SMP memang tidak lagi mencantumkan ranking siswa di raport mereka, namun wali kelasnya menunjukkan pada saya posisi Irham di kelas.  Sedangkan sekolah Ilman di SD masih menuliskan capaian ranking siswa di raport.  Sepertinya memang sedang terjadi pergeseran ke arah tidak berlakunya ranking kelas.  Di Sekolah Ilman penulisan ranking dibatasi sampai level tertentu saja, kalau tidak salah ranking 15.  Setelah itu ranking murid tak lagi dicantumkan di raport mereka.

 

 

Untuk beberapa pelajaran, Ilman masih harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalannnya.  IPS, PPKN, dan Bahasa Indonesia misalnya.  Yang tak kalah penting adalah pelajaran Agama dan ’derivat’nya.   Iya..nih, anak SD sekarang harus belajar Qur’an –Hadist, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, masing-masih merupakan pelajaran terpisah.   Tentu saja...Ilman kebingungan, meskipun dia sudah bisa mengaji.   Belum lagi Bahasa Arab.   Waduh...ibu-nya juga ikut pusyingggg ....

 

 

Anyway,  mereka sekarang boleh lega sejenak.  Liburan tiga minggu mudah-mudahan bisa menyegarkan hati dan pikiran mereka sebelum siap berjuang lagi mulai pertengahan Juli lagi.  Karena Irham dan Ilman akan menghadapi Ujian Nasional SMP dan SD yang tiap tahun menjadi sumber ’ketakutan’ setiap siswa dan orangtua.

 

 

Banda Aceh, 22 Juni 2008

lily

Sekolah Baru: Six Months On...(2)

Suatu malam, ketika  Irham dan Ilman sedang serius belajar untuk ujian esok harinya, saya mendengar mereka berbicara.

‘I miss the school in Leeds’,  Ilman membuka percakapan.  ‘Me too’, balas Irham.  ‘It was so much fun’, lanjutnya.

 

Saya menduga itulah yang mereka rindukan.  ’Fun..!’   Rupanya rasa inilah yang hilang dari hati mereka dalam proses kembali ke sekolah di Banda Aceh.  Meskipun kami sudah mempersiapkan mereka untuk kembali sekolah di tanah air, mereka yang awalnya begitu semangat pulang  kampung, kini merasa rindu akan sekolah di Leeds.

 

Saya menganggap perasaan mereka ini normal saja.  Ketika mereka begitu banyak dijejali dengan segala hal yang harus mereka ingat dan hafal, wajar kalau mereka merindukan rasa ’fun’ akan proses belajar yang menyenangkan di Leeds.

 

Tentu saja saya tahu bagaimana anak-anak kita umumnya dididik di sekolah kini.  Mereka dipaksa meraup semua bahan pelajaran demi mengejar target kurikulum yang berbasis kompetensi.  Itu tujuan idealnya.  Ini tidak salah.., dalam kehidupan yang kini semakin sarat dengan persaingan dalam berbagai hal, anak-anak memang harus dipersiapkan untuk mampu bersaing secara akademis di masa depan nanti.

 

Hanya saja..sering timbul pertanyaan yang sama di hati saya setelah ikut membaca bahan ajar mereka dari buku pegangan.  Sudahkah semua target yang ingin dicapai disesuaikan dengan perkembangan emosi dan jiwa anak seusia mereka ?  Sudahkah semua bahan yang diajarkan disesuaikan dengan kemampuan mencerna rata-rata anak seusia mereka ?  Atau memang semua ini sudah diteliti oleh ahlinya.  Barangkali saya aja yang masih konvensional menganggap belajar itu seharusnya adalah proses yang menyenangkan dan memancing rasa ingin tahu anak, yang akhirnya memicu intelegensia si anak untuk terus berkembang.

 

Melihat banyaknya materi dan tingginya capaian yang ditargetkan untuk anak-anak kita di Indonesia, tak heran ada seorang teman bule saya yang rajin bolak-balik UK-Indonesia berkomentar: ’Anak-anak Indonesia jenius semua ya..?’  ’Rasanya kalau di UK anak-anak gak akan sanggup menampung semua pelajaran seperti di Indonesia’.  Nah lo.., apa memang benar begitu ?

 

Seorang teman yang juga ’concern’ dengan sistem pendidikan kita pernah berkata, ibarat sebuah gelas..anak-anak kita sudah dijejali penuh dengan air sejak di SD (bahkan dari TK) sampai SMA.  Makanya ketika kuliah gelasnya sudah penuh, kalau diisi air lagi..tumpah terus.   Analogi ini mungkin bisa sedikit menjelaskan pengalaman saya menghadapi mahasiswa yang terkadang tak bisa lagi mengerti logika sederhana atau hitungan matematika yang sangat sederhana sekalipun.  Tentu saja hal ini tidak terjadi pada semua anak.  Selalu saja ada anak cerdas atau super cerdas yang punya kemampuan lebih dalam mencerna semua materi pelajaran.  

 

Hal lain yang saya amati dalam sistem pendidikan sekolah kita umumnya adalah, kurangnya komunikasi antara guru dan orangtua.  Kalau di UK setiap semester ada  pertemuan guru-orangtua, sebagai ajang guru menjelaskan kemajuan si anak, sekaligus sebagai orangtua bertanya tentang ini-itu seputar pendidikan si anak.  Mungkin di sekolah-sekolah swasta mahal, pertemuan seperti ini sudah ada, tapi saya diperhatikan di sekolah Irham dan Ilman, acara seperti ini tidak ada sama sekali.

 

Karena itu saya yang memang selalu cerewet bertanya tentang anak-anak saya jadi  harus membatasi diri.  Seorang teman mengingatkan saya bahwa tidak semua guru bisa menerima kritikan atau masukan dari orangtua.  Apalagi kalau saya membanding-bandingkan dengan sistem di UK.  Bisa gawat...!!

 

Bukan maksud saya  bertubi-tubi memberi kesan negatif akan pendidikan kita.  Wong saya juga produk pendidikan dalam negeri koq.   Sampai S1..saya sekolah di Indonesia teruss, dan hasilnya not bad at all  (hi..hi...muji diri dikit).  Atau mungkin ini karena sistem pendidikan saat saya di SD-SMA dulu berbeda dengan sekarang ?

 

Karena persaingan yang begitu ketat untuk mendapat pendidikan yang baik, anak-anak kita terpacu untuk belajar keras dan meraih prestasi.  Menurut saya itu sisi positif.   Ketika di UK dulu.., saya mengamati  umumnya anak-anak kita yang bersekolah di sana cenderung sopan-sopan, patuh dan gak pernah bikin ribut.  Bagi guru-guru di UK ini sangat menyenangkan.  Itu juga sisi positif sistem pendidikan kita.   Bener kan ?

 

Jadi kawan, tulisan saya sama sekali tak bermaksud melulu menjelek-jelekkan sistem pendidikan kita.  Ini hanya ungkapan rasa hati dan pikiran saya sebagai orangtua yang juga bersinggungan sedikit dengan dunia pendidikan di Indonesia. 

 

Bagi anak-anak saya, kesempatan sekolah di UK selama beberapa tahun saya harapkan menjadi pengalaman berharga untuk mereka, yang mungkin belum terasa sekarang.  Kelak.., Insya Allah mereka bisa menghargai kesempatan itu...dan menjadikannya sebagai bagian dari setumpuk bekal yang harus mereka kumpulkan dalam meniti hari depan.

 

Banda Aceh, 20 Juni 2008

Lily

.

Tuesday, June 17, 2008

Sekolah Baru: Six Months On….(1)

Ujian kenaikan kelas alias ujian akhir semester bagi anak-anak SD dan SMP sudah usai.  Saya ikut lega.  Iya..nih, setelah ikut deg-degan mendampingi anak-anak belajar setiap hari, saya bisa bernafas lega.  Tinggal tunggu hasilnya.

 

Selama 6 bulan saya memang terus mendampingi proses penyesuaian the boys di sekolah baru mereka.  Secara aktif saya berusaha memudahkan adaptasi mereka, terutama dengan sistem pembelajaran  dan subjek pelajaran yang jauh berbeda dengan yang mereka jalani selama di UK.

 

Bagi Irham, si tengah, yang kini duduk di kelas 2 SMP, kelihatannya proses ini sedikit lebih mudah.  Mungkin karena Irham sempat bersekolah sampai kelas IV SD sebelum kami berangkat ke leeds 2004 lalu.  Namun, bagi Ilman si bungsu, prosesnya sedikit lebih lamban.  Praktis dia memulai sekolah SD-nya di UK, karena dia masuk kelas I primary school di Leeds.  Sekarang ketika kembali ke SD di Banda Aceh, Ilman sudah duduk di kelas V.  Banyak sekali yang harus dikejar Ilman, untuk menyesuaikan diri dengan sekolah baru-nya.

 

Terus terang saya ikut mengerutkan kening melihat materi pelajaran anak-anak SD, terutama kelas V SD.  Terlalu berat dan padat  !  Itu sih menurut saya.  Beban anak-anak terlalu berlebihan dan sudah diluar kemampuan anak-anak seusia mereka.  Aduh…bisa-bisa saya dikejar Departemen Pendidikan Nasional karena mengatakan hal ini.

 

Kembali ke anak-anak saya, Irham memang lebih santai dan rilek menghadapi sekolah barunya, meskipun tak jarang dia komplain juga tentang sistem yang berlaku.  Bagi Ilman yang lebih serius dan gampang cemas, hari-hari sekolah tidak selalu membuatnya nyaman dan gembira.  Sewaktu di Leeds, sepanjang jalan pulang sekolah dengan gembira dan penuh semangat dia bercerita tentang aktivitas sekolahnya, tentang pelajaran baru, tentang teman-temannya, tentang guru-gurunya, dsb.  Kini, segalanya berubah.  Sepanjang perjalanan pulang sekolah, di dalam mobil Ilman lebih banyak diam dengan wajah lesu.  Kalaupun menjawab pertanyaan saya, Ilman lebih memilih jawaban singkat tanpa penjelasan macam-macam.  ’ I am tired’, itu selalu katanya.

 

 Saya kehilangan semangat dan keceriaan Ilman.  Semangatnya bercerita baru kembali usai menonton acara-acara yang disukainya di National Geographic TV.  Mendengar dia menjelaskan tentang bagaimana tsunami terjadi, tentang pesawat airbus type A380 yang begitu menakjubkan hatinya, tentang ’amazing structures in the world’, membuat saya kadang ikut takjub dengan pengetahuannya.  Secara subjektif sebagai ibu, saya menganggap si bungsu Ilman mempunyai pengetahuan umum yang rata-rata sedikit di atas anak-anak seusianya (mudah-mudahan saya tidak terkesan sombong).

 

Di sekolah, menurut guru kelasnya Ilman termasuk anak yang cerdas, terutama untuk pelajaran matematika dan IPA.  Ilman memang menyukai kedua pelajaran ini.  Sedangkan untuk pelajaran Bhs Inggris, alhamdulillah dia juga gak punya masalah.  Dia sering jadi tempat bertanya bagi teman-temannya kala mereka kebingungan atau tidak mengerti dalam bhs Ingggris.  Ilman pernah berkata pada saya: ’My friends are better and better in English now ’.   Ketika saya bertanya: ‘ How come ?’ Dengan bangga dia berkata:  ‘Because I teach them ‘ (he..he...).

Bagaimana pelajaran lain ?  Tentu saja tidak gampang mengejar 5 tahun ketinggalannya, terutama untuk pelajaran yang berhubungan dengan ke-indonesiaan, seperti B. Indonesia, PPKN,  dan IPS.  Ilman agak kelabakan dengan semua pelajaran ini.  Bukan hanya dengan isi pelajarannya, tapi masalah bahasa juga menjadi kendala besar bagi Ilman, terutama dalam hal menulis.  Seringkali saya dan Ayah-nya harus menjelaskan dulu setiap kalimat yang dibacanya ke dalam bhs Inggris baru menuliskan lagi ke bhs Indonesia.  Itu sebuah proses memang, yang mau tidak mau harus dilalui Ilman.

 

Yang membuat saya kadang ikut prihatin adalah hilangnya semangat dan keceriaan Ilman menjalani aktivitas sekolahnya.  Terlebih saat ujian kemarin.  Hampir setiap hari dia bertanya: ’How will I do in the exams ?’  ‘What happened if I fail?’  ‘Will I stay in year 5 for another year?’.  Saya merasa iba dan terenyuh mendengar semua pertanyaannya.  Kelihatannya dia begitu kuatir dan cemas.  Bagitu ujian usai Ilman sempat demam dan mual selama beberapa hari.  Saya duga ini berhubungan dengan tekanan hatinya saat ujian.  Dia stress…gitu.

 

Saya senantiasa berusaha untuk tidak menambah beban mereka.  Saya tidak pernah memaksa mereka untuk menjadi yang murid yang paling pintar di kelas.  Saya selalu mengatakan pada ketiga anak saya: ’Do your best ’.  ’Don’t worry too much about the results’.  

 

Sayangnya guru Ilman di kelas tanpa disadari justru menambah level stress si bungsu saya ini.  Mungkin dengan maksud membakar semangat mereka yang tidak terlalu bagus nilainya saat ujian semester I, sang ibu guru memajang ranking semua anak di kelas 5 semester lalu (Des-Jan).  Dan Ilman yang saat itu baru sebulanan berada di tanah air harus puas dengan ranking 8 dari bawah diantara teman-teman lain.   Niat ibu guru tidak sejalan dengan akibat yang dirasakan Ilman.  Dia pulang ke rumah dengan wajah sedih dan berkata: ‘ I think I am now is one of the stupid pupils in the class’.  Jadi siapa bilang sistem ranking di kelas tidak mempengaruhi jiwa anak ?  

 

Kini setelah ujian usai, Ilman terlihat lebih ceria.  Dia tak terlalu kuatir lagi bakal tinggal kelas.  ’I think I could answer around 50-60 % of the question in most subjects’.  ‘Would it be enough for me to go to year 6 ?’  Saya meyakinkannya dengan berkata: ‘ I know you worked very hard’ .  ‘Sure you will pass the exams…’.

  

Raport akan dibagikan Sabtu 21 Juni ini.  Saya cukup yakin Insya Allah mereka akan baik-baik saja.  Mereka sudah belajar keras untuk bisa beradaptasi di kelas.  Mereka hanya masih butuh waktu  untuk bisa merasa nyaman dan mengejar ketinggalan mereka.  Terutama dengan sistem ujian di sekolah kita.  Soalnya saat di Leeds, anak-anak SD tidak pernah menjalani ujian yang bikin stress begitu.

 

Saya sendiri kadang bersikap mendua tentang masalah yang dihadapi anak-anak saya di sekolah.  Di satu sisi, secara pribadi banyak hal yang tidak saya setujui dengan sistem yang berlaku, di sisi lain saya justru mengajarkan anak-anak saya untuk menghadapi semua itu sebagai bagian dari hal yang harus mereka terima.  Mungkin keputusan saya tidak ideal, tapi saat ini itulah keputusan yang saya anggap bijaksana, mengingat saya harus berhati-hati sekali kalau mau mengkritik atau memberi saran untuk guru.  Not many teachers will be happy to hear that !

 

Untuk teman-teman semua, mohon saran untuk saya ya...

 

Banda Aceh, 17 Juni 2008

lily

 

Tuesday, July 24, 2007

Harry Potter Mania....

 

Harry Potter and the Deathly Hallows,  itulah judul buku seri ke-7 tentang tokoh si pemuda terkenal Harry Potter.  Sejak diumumkan akan terbitnya seri terakhir ini, para penggemar Harry Potter (HP) di seluruh dunia sudah menunggu tak sabaran akan hari-H peluncurannya yaitu Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 00.00 dinihari.  

 

Melalui TV saya lihat, sejak Jum’at sore..beberapa toko buku di London…sudah disesaki oleh antrian panjang para penggemar HP.  Asyik juga menonton mereka dengan kostum yang unik ala HP …, mereka bahkan ada yang sengaja datang dari jauh ingin berkumpul dan menunggu bersama sesama penggemar HP.

 

 

Begitu diluncurkan serentak diberbagai kota di UK (bahkan di kota-kota Negara lain), buku ini laris manis diserbu penggemarnya.  Hari Senin kemarin 23 Juli saya baca koran.., katanya..seri terakhir HP ini menjadi buku  yang tingkat penjualannya paling tinggi dalam waktu singkat. 

 

Bagaimana tidak ?  Dalam waktu 36 jam jaringan supermarket ASDA menjual sampai 500.000 copy, toko buku Waterstone menjual sekitar 100.000 copy dalam dua jam, sedangkan WH Smith menjual 15 buku dalam satu detik pertama setelah buku diluncurkan.  Toko buku online Amazon.com malah sudah menerima pre-order sampai 2.2.juta copy, meningkat 47 % dari buku HP seri sebelumnya.  Menurut penerbitnya Bloomsbury Publisher..di hari pertama terbitnya buku seri ke-7 ini penjualannya mencapai 3 juta copy.  Bukan main…

 

Melihat catatan di atas bisa diduga.., sang penulisnya..tambah kaya…terus.  Menurut Wikipedia, pada tahun 2007 ini JK Rowling sang penulis seri HP mempunyai  kekayaan sampai 545 juta pound (sekitar $ 1 Billion US $) yang membuatnya menjadi orang pertama  menjadi billionaire dengan menulis buku. Catatan kekayaannya tentu akan bertambah setelah HP seri ke-7 diterbitkan.

 

Padahal sebelum seri I HP diterbitkan, masih menurut Wikipedia, Bloomsbury sang penerbit ragu kalau buku ini akan dibaca secara luas.  Bloomsbury kuatir buku HP ini tidak akan dibeli atau dibaca oleh anak-anak lelaki karena penulisnya seorang perempuan  (emangnya kenapa…?  Saya baru tahu info ini lho !).

 

 Karena itu pihak peneribit meminta sang penulis tidak menuliskan nama pertamanya, Joanne, dan memintanya menulis dua huruf initial sebagai ganti Joanne.  Karena tidak punya middle name, Joanne alias Jo Rowling kemudian memilih Kathleen yang merupakan nama depan neneknya menjadi nama tengahnya, jadilah namanya JK Rowling…

 

Anyway, demam HP ternyata juga melanda rumah saya, meskipun yang terkena ‘demam’ hanya satu orang.  Walau kami semua suka membaca, hanya sulung saya K’Lila yang menjadi penggemar setia si pemuda HP.  Kedua adiknya masih belum suka baca buku yang tebal-tebal, sukanya mereka baca komik atau buku cerita yang tipis-tipis saja.  Saya sendiri gak begitu suka baca buku science fiction atau fantasi lainnya, saya lebih suka baca buku ‘physicology thriller’ seperti tulisannya John Grisham, Sydney Sheldon, Marry Higgin-Clark, dsb.  Kalau suami saya sih sekarang hobbynya baca apapun yang berkaitan dengan ‘Combustion..’  (he..he.., karena itu topik thesis-nya).

 

Kembali ke buku HP, sejak Jum’at malam..L’Lila sudah nangkring depan TV nunggu berita tentang HP.  Dari awal dia sudah bilang:  ‘Belinya nanti saja, ah…  Tunggu harganya agak turun..’.   Jadinya Sabtu pagi dia masih tenang-tenang aja di rumah, belum tergoda untuk beli segera.

 

Sabtu sore, saya menemani si bungsu Ilman untuk beli sepatu di City Centre-nya Leeds.  Wah…setiap toko buku yang kami lewati terlihat rame dengan promosi HP, bahkan ada toko yang menurunkan harga buku sampai £6.99 (kurang dari setengah harga rekomendasi) kalau kita belanja minimal $ 10.00 barang lainnya.  Dasar Ilman yang tahu kakaknya suka HP, begitu pulang dia cerita pada K’Lila..tentang ramenya orang di toko buku.

 

Sabtu malam..K’Lila mulai berubah pikiran.., ‘Gimana ya..akhir ceritanya ?’  ‘Kayaknya besok pengen lihat-lihat ke toko buku deh…’

 

Minggu siang, akhirnya dia memutuskan untuk browsing ke City Centre.., setelah sebelumnya merayu saya untuk memberinya tambahan pocket money bulan ini.  Tak berapa lama K’Lila kembali ke rumah dengan buku HP seri ke-7 di tangannya.  Wah..ternyata dia gak tahan juga untuk segera membeli..

 

Minggu sore dia mulai membaca..serius di kamar. Jadwal nonton TV yang bertambah selama liburan ini bertukar jadi baca HP.  Berlanjut terus sampai Minggu malam dan Senin kemarin.  Ajakan main badminton oleh Irham dan Ilman ditolak…  ‘Sorry guys, no playing outside, I cannot stop reading this book’, tolak K’Lila.

 

Senin sore.., K’Lila keluar kamar…’Horee…, selesai sudah.., seru amat ceritanya’.   Walah ..saya melongo..  Buku setebal 607 halaman selesai dibaca secepat itu.., gimana bacanya ?  

 

‘Siapa yang kalah’, Tanya saya sok tahu.  ‘Harry Potter ?  Voldemort ? Terus tokohnya mati ?’

 

‘Gak koq..Bunda, Harry boleh milih antara mau mati atau hidup..dan dia milih untuk tetap hidup…’.  Jawab K’Lila.

 

Waduh..saya tambah melongo… 

(Siapa tahu suatu saat nanti saya ikutan baca juga buku-buku seri HP koleksinya K’Lila, agar saya bisa mengerti mengapa buku ini begitu banyak penggemarnya di seluruh dunia…)

 

Leeds, Selasa 24 Juli 2007