Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Friday, July 10, 2009

Irham's Big Step....

Kalau si bungsu saya, Ilman, sudah bisa menjawab dengan yakin akan cita-citanya, Irham si tengah..memang masih pikir-pikir mau jadi apa kelak.  Walaupun demikian, Irham tahu pasti mau sekolah dimana usai SMP tahun ini.  Dia mau melanjutkan  SMA-nya di United World College (UWC) di Singapore ! ( ini alamatnya )   Dari mana ide ini muncul ?

 

Keinginan Irham ini bermula awal 2008 lalu ketika beberapa student dari College terkemuka ini berkunjung ke Banda Aceh dan mengadakan semacam workshop bagi sejumlah pelajar dari seluruh SMP negeri di Banda Aceh.  Bersama beberapa teman dari sekolahnya, Irham kebetulan ikut menjadi peserta workshop yang berlangsung selama 3 hari itu.

 

 

Usai workshop tsb dia selalu mengatakan pengen sekali sekolah di sana.  Sambil lalu saya menjawab kalau kami gak bakalan sanggup membiayainya ke sana.  ‘Don’t worry, I am going to get a scholarship for that’, balas Irham.   Terus terang saya yang sejak awal memang tidak begitu tertarik memasukkan anak-anak ke boarding school saat usia SMA, tidak begitu memperhatikan keinginan Irham ini.

 

 

Suatu hari di awal bulan Desember 2008, saat pulang sekolah Irham menunjukkan formulir pendaftaran untuk UWC plus seabreg persyaratan untuk mendapat beasiswa ke sana.  Dibantu ayahnya dengan serius Irham mengisi semua formulir untuk persyaratan administrasi. 

 

Akhir Desember Irham mendapat panggilan test tertulis, rupanya dia dinyatakan lolos saringan administrasi.   Terus terang saya belum bisa melepaskan Irham sekolah jauh begitu, namun saya juga berpikir biarlah Irham ikut tes, bisa menjadi pengalaman baginya.   Yang ikut test begitu banyaknya , belum tentu Irham bisa lulus.

 

 

Seminggu kemudian, bersama 7 peserta lainnya Irham dinyatakan lulus ujian tertulis beberapa pelajaran pokok.  Saat itu saya..baru tersentak.  Wah…gimana kalau Irham lulus wawancara nanti ?  Ketika kegundahan hati saya lepaskan ke si Abang, dia menenangkan saya dengan mengatakan kita lihat saja nanti.  Toh Irham belum tentu lulus.

 

 

Awal Januari 2009, selama dua hari penuh Irham mengikuti psikotest, test kesehatan, dan wawancara yang langsung dilakukan oleh beberapa guru dari UWC Singapore plus pihak Sampoerna Foundation sebagai pendamping di Indonesia.

 

Setelah semua test belalu, esoknya saya bertanya pada Irham:  ‘Let say..you pass all the test, and chosen to be the winner for scholarship.  How do you feel about it, Bang Awam ?.  Dengan riang Irham menjawab:  ‘I will be very happy of course’.

 

 

Irham tahu persis, saya belum mengiyakan dan menyatakan setuju penuh untuk dia sekolah ke Singapore.  Dengan serius saya kemudian melanjutkan:’ How about if I say that you cant go ?’.   Ini bukan pertanyaan gampang untuk dijawab, saya tahu itu.

 

 

Dibandingkan kakak dan adiknya, Irham mempunyai pembawaan yang lebih tenang, tidak selalu gampang dibaca keinginannya, dan lebih suka mengalah dalam situasi sulit.

Tak perlu lama bagi Irham untuk menjawab pertanyaan saya: ‘I wont go if you are not happy, mum.  I will give the chance to the second place to go’..   Saya hanya terdiam dan tidak lagi menyambung diskusi sore itu.  Beasiswa ke UWC ini memang hanya untuk satu orang.  Berarti peluang Irham adalah 1/8 dibandingkan seluruh peserta yang tersisa.

 

Dua bulan berlalu, diskusi tentang sekolah ke Singapore tak lagi bergema di rumah kami, sampai awal Maret lalu, Irham membawa pulang selembar fax dari sekolahnya.  Tak terlihat keriangan berlebihan di wajahnya.   Di mata saya dia biasa-biasa saja saat mengatakan:  ’ I got the scholarship, mum’ sambil menunjukkan lembaran fax yang dipegangnya.

 

Seharusnya saya gembira akan keberhasilan Irham.  Tapi saya kalah dalam menyembunyikan perasaan dibandingkan Irham.  Dia tahu saya berat sekali untuk melepasnya merantau.  Ya..ampun, umurnya baru 14 tahun..!  Kalau dia di sana, betapa sepinya rumah tanpa kak lila dan Irham.  Tinggal Ilman yang di rumah. Bagaimana saya tidak sedih ?  ’Dont worry mum, if you dont want me to go there, I wont go...’

 

 

Kami diberi waktu seminggu untuk menyatakan kesediaan menerima beasiswa untuk Irham.   Keputusan harus diambil segera.  Dengan tegas si Abang menyatakan dia gembira dan mendukung kelulusan Irham.  Namun kalau itu ternyata tidak membawa kebahagiaan bagi saya yang akhirnya berdampak timbulnya rasa tidak damai  dalam keluarga, sebaiknya kemenangan Irham ditolak saja.

 

 

Saya tidak mau menjadi Ibu yang egois dan hanya mementingkan perasaan sendiri.  Saya mencari tahu alamat penerima beasiswa tahun-tahun sebelumnya.  Saya mendatangi orangtua mereka dan bertanya ini-itu bagaimana pengalaman mereka melepaskan anak seusia Irham sekolah Singapore.

 

Kemudian setelah saya cukup info, tanpa ikut serta ayahnya, saya mengajak Irham berbicara.  Dengan hati-hati saya bertanya pada Irham apakah dia memang benar-benar ingin sekolah disana.  Sudahkah dia siap untuk mandiri jauh dari rumah.  Saya juga membayangkan pada Irham kesulitan yang mungkin  dihadapinya  kelak jauh dari rumah.   Irham terlihat sangat yakin akan keinginannya.

 

Akhirnya walaupun berat, saya mengatakan padanya bahwa dia boleh pergi.   Saat itulah dia bersorak gembira.  ’Thank you, mum.   I wont let you down’.   Dengan segera berita ini menyebar ke seantero rumah.   Ilman mendatangai saya.  ‘Don’t be sad, mummy.   You still have me at home for the next three years’.  Lho.., Ilman mau sekolah keluar juga ? 

 

 

Begitulah.., awal Juni kemarin Irham mengikuti orientasi seminggu di kampus UWC Singapore.  Saya tidak ikut mendampingi Irham, karena sedang training di Wageningen.  Si Abang mengantar Irham sampai Medan saja, kemudian melepas Irham terbang sendiri ke Singapore. ’Sekalian latihan’, jawab si Abang ketika saya protes.  Sabtu, 6 Juni kemarin si Abang menjemput kembali Irham di Medan.  Kali ini Irham juga harus terbang sendiri dari Singapore ke Medan.

 

 

Usai mengantar Irham naik pesawat ke Singapore minggu lalu, si Abang mengirim email sangat mengharukan untuk saya.   Ah.., Irham memang sudah besar....

 

 

 

 

Wageningen, 7 Juni 2009

Monday, May 4, 2009

Anak ikut UN..Ortu ikut pusyinggg..

Dua bulan terakhir ini aktivitas ‘the duo’ alias Irham dan Ilman lumayan padat.   Selain kegiatan rutin sekolah, les, mengaji, ada tambahan lain lagi yaitu ‘try out’ UN.   Mereka berdua ikut UN tahun ini.   Irham UN SMP, dan Ilman di SD.

 

Biasanya saya selalu meliburkan anak-anak dari kegiatan akademik pada hari Minggu.   Biarlah mereka bermain sepuasnya ehari dalam seminggu.   Tapi ’try out’ mereka ternyata selalu diadakan hari Minggu.   Alasannya biar kegiatan sekolah tak terganggu.  Lho.., bukannya ’try out’ itu adalah kegiatan sekolah juga ?  

 

 

Akibatnya mereka jadi hampir tak punya hari libur.   Ilman si bungsu suka ngomel: ’Why do I have to work hard on Sunday ?’   Apa boleh buat.   Mereka berdua memang harus kejar banyak…, soalnya ujian seperti ini memang hal baru bagi mereka.

 

Selain di sekolah, saya dan si Abang ikut ‘menggenjot’ mereka di rumah.   Si Abang ikut sibuk mencari-cari bahan dan contoh soal UN dari internet. Kami juga ikut menunggui Irham membahas contoh soal.  

 

Terus terang saat membaca soal-soal tsb, saya ikut bingung.   Sungguh tidak sederhana.   Bahasa Indonesia, misalnya.  Kalimatnya panjang-panjang.  Jawabannya meragukan.   Buat Ilman yang perbendaharaan katanya masih terbatas  pada bahasa sehari-hari, sering kali tidak mengerti arti kalimat yang dituliskan.   ’What does serbaguna  mean ?’ suatu kali dia bertanya. 

 

 

Begitulah, selama Irham UN minggu lalu..kami berdua (terutama si Abang) mendampinginya setiap malam, mempersiapkan ujian keesokan harinya.  Kini UN SMP telah selesai.  Irham masih harus ikut ujian sekolah dan ujian nasional untuk kelas bilingual.   Jadi dia masih harus...fokus belajar.

 

 

Mulai 11 Mei minggu depan, giliran Ilman yang akan ujian.   Dia mulai cemberut lagi.   ’I wish...I did not have to take this kind of exam...’.     Saya jadi ikut pusing karenanya……..

 

 

 

 

Banda Aceh, 5 Mei 2009

lily

Tuesday, June 24, 2008

‘Horee…, I am through ‘

Seruan gembira itu keluar dari mulut si bungsu Ilman, Sabtu pagi 21 Juni kemarin begitu melihat hasil raportnya.   Rupanya ucapan gurunya di kelas bahwa kalau nilai ujian mereka jelek bisa mengakibatkan mereka tinggal kelas, begitu mempengaruhi Ilman.  Sejak bagun tidur Sabtu pagi-pagi dia sudah beberapa kali bertanya pada saya dengan wajah kuatir: ‘ Will I go to year 6 ?’  Or ‘Will I stay in year 5 ?’

 

 

Alhamdulillah nilai yang tercantum di Raport Ilman dan Irham tidak mengecewakan.  Mereka berdua masuk 10 besar dalam kelas.   Untuk mereka yang baru 6 bulan kembali ke tanah air, keberhasilan ini cukup menggembirakan saya dan Ayah-nya. 

 

 

Sekolah Irham di SMP memang tidak lagi mencantumkan ranking siswa di raport mereka, namun wali kelasnya menunjukkan pada saya posisi Irham di kelas.  Sedangkan sekolah Ilman di SD masih menuliskan capaian ranking siswa di raport.  Sepertinya memang sedang terjadi pergeseran ke arah tidak berlakunya ranking kelas.  Di Sekolah Ilman penulisan ranking dibatasi sampai level tertentu saja, kalau tidak salah ranking 15.  Setelah itu ranking murid tak lagi dicantumkan di raport mereka.

 

 

Untuk beberapa pelajaran, Ilman masih harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalannnya.  IPS, PPKN, dan Bahasa Indonesia misalnya.  Yang tak kalah penting adalah pelajaran Agama dan ’derivat’nya.   Iya..nih, anak SD sekarang harus belajar Qur’an –Hadist, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, masing-masih merupakan pelajaran terpisah.   Tentu saja...Ilman kebingungan, meskipun dia sudah bisa mengaji.   Belum lagi Bahasa Arab.   Waduh...ibu-nya juga ikut pusyingggg ....

 

 

Anyway,  mereka sekarang boleh lega sejenak.  Liburan tiga minggu mudah-mudahan bisa menyegarkan hati dan pikiran mereka sebelum siap berjuang lagi mulai pertengahan Juli lagi.  Karena Irham dan Ilman akan menghadapi Ujian Nasional SMP dan SD yang tiap tahun menjadi sumber ’ketakutan’ setiap siswa dan orangtua.

 

 

Banda Aceh, 22 Juni 2008

lily

Sekolah Baru: Six Months On...(2)

Suatu malam, ketika  Irham dan Ilman sedang serius belajar untuk ujian esok harinya, saya mendengar mereka berbicara.

‘I miss the school in Leeds’,  Ilman membuka percakapan.  ‘Me too’, balas Irham.  ‘It was so much fun’, lanjutnya.

 

Saya menduga itulah yang mereka rindukan.  ’Fun..!’   Rupanya rasa inilah yang hilang dari hati mereka dalam proses kembali ke sekolah di Banda Aceh.  Meskipun kami sudah mempersiapkan mereka untuk kembali sekolah di tanah air, mereka yang awalnya begitu semangat pulang  kampung, kini merasa rindu akan sekolah di Leeds.

 

Saya menganggap perasaan mereka ini normal saja.  Ketika mereka begitu banyak dijejali dengan segala hal yang harus mereka ingat dan hafal, wajar kalau mereka merindukan rasa ’fun’ akan proses belajar yang menyenangkan di Leeds.

 

Tentu saja saya tahu bagaimana anak-anak kita umumnya dididik di sekolah kini.  Mereka dipaksa meraup semua bahan pelajaran demi mengejar target kurikulum yang berbasis kompetensi.  Itu tujuan idealnya.  Ini tidak salah.., dalam kehidupan yang kini semakin sarat dengan persaingan dalam berbagai hal, anak-anak memang harus dipersiapkan untuk mampu bersaing secara akademis di masa depan nanti.

 

Hanya saja..sering timbul pertanyaan yang sama di hati saya setelah ikut membaca bahan ajar mereka dari buku pegangan.  Sudahkah semua target yang ingin dicapai disesuaikan dengan perkembangan emosi dan jiwa anak seusia mereka ?  Sudahkah semua bahan yang diajarkan disesuaikan dengan kemampuan mencerna rata-rata anak seusia mereka ?  Atau memang semua ini sudah diteliti oleh ahlinya.  Barangkali saya aja yang masih konvensional menganggap belajar itu seharusnya adalah proses yang menyenangkan dan memancing rasa ingin tahu anak, yang akhirnya memicu intelegensia si anak untuk terus berkembang.

 

Melihat banyaknya materi dan tingginya capaian yang ditargetkan untuk anak-anak kita di Indonesia, tak heran ada seorang teman bule saya yang rajin bolak-balik UK-Indonesia berkomentar: ’Anak-anak Indonesia jenius semua ya..?’  ’Rasanya kalau di UK anak-anak gak akan sanggup menampung semua pelajaran seperti di Indonesia’.  Nah lo.., apa memang benar begitu ?

 

Seorang teman yang juga ’concern’ dengan sistem pendidikan kita pernah berkata, ibarat sebuah gelas..anak-anak kita sudah dijejali penuh dengan air sejak di SD (bahkan dari TK) sampai SMA.  Makanya ketika kuliah gelasnya sudah penuh, kalau diisi air lagi..tumpah terus.   Analogi ini mungkin bisa sedikit menjelaskan pengalaman saya menghadapi mahasiswa yang terkadang tak bisa lagi mengerti logika sederhana atau hitungan matematika yang sangat sederhana sekalipun.  Tentu saja hal ini tidak terjadi pada semua anak.  Selalu saja ada anak cerdas atau super cerdas yang punya kemampuan lebih dalam mencerna semua materi pelajaran.  

 

Hal lain yang saya amati dalam sistem pendidikan sekolah kita umumnya adalah, kurangnya komunikasi antara guru dan orangtua.  Kalau di UK setiap semester ada  pertemuan guru-orangtua, sebagai ajang guru menjelaskan kemajuan si anak, sekaligus sebagai orangtua bertanya tentang ini-itu seputar pendidikan si anak.  Mungkin di sekolah-sekolah swasta mahal, pertemuan seperti ini sudah ada, tapi saya diperhatikan di sekolah Irham dan Ilman, acara seperti ini tidak ada sama sekali.

 

Karena itu saya yang memang selalu cerewet bertanya tentang anak-anak saya jadi  harus membatasi diri.  Seorang teman mengingatkan saya bahwa tidak semua guru bisa menerima kritikan atau masukan dari orangtua.  Apalagi kalau saya membanding-bandingkan dengan sistem di UK.  Bisa gawat...!!

 

Bukan maksud saya  bertubi-tubi memberi kesan negatif akan pendidikan kita.  Wong saya juga produk pendidikan dalam negeri koq.   Sampai S1..saya sekolah di Indonesia teruss, dan hasilnya not bad at all  (hi..hi...muji diri dikit).  Atau mungkin ini karena sistem pendidikan saat saya di SD-SMA dulu berbeda dengan sekarang ?

 

Karena persaingan yang begitu ketat untuk mendapat pendidikan yang baik, anak-anak kita terpacu untuk belajar keras dan meraih prestasi.  Menurut saya itu sisi positif.   Ketika di UK dulu.., saya mengamati  umumnya anak-anak kita yang bersekolah di sana cenderung sopan-sopan, patuh dan gak pernah bikin ribut.  Bagi guru-guru di UK ini sangat menyenangkan.  Itu juga sisi positif sistem pendidikan kita.   Bener kan ?

 

Jadi kawan, tulisan saya sama sekali tak bermaksud melulu menjelek-jelekkan sistem pendidikan kita.  Ini hanya ungkapan rasa hati dan pikiran saya sebagai orangtua yang juga bersinggungan sedikit dengan dunia pendidikan di Indonesia. 

 

Bagi anak-anak saya, kesempatan sekolah di UK selama beberapa tahun saya harapkan menjadi pengalaman berharga untuk mereka, yang mungkin belum terasa sekarang.  Kelak.., Insya Allah mereka bisa menghargai kesempatan itu...dan menjadikannya sebagai bagian dari setumpuk bekal yang harus mereka kumpulkan dalam meniti hari depan.

 

Banda Aceh, 20 Juni 2008

Lily

.

Saturday, June 30, 2007

Sistem Pendidikan di England (3): Beda kemampuan, beda kelas di Secondary School

 

Catatan:

Awalnya sulit bagi saya untuk mengerti sistem yang diterapkan di Secondary School di UK, jauh banget bedanya dengan SMP dan SMA kita di Indonesia.  Butuh waktu lama bagi saya (setelah bolak-balik ketemu guru dan nanya terus sama anak-anak saya) untuk akhirnya bisa memahami sistemnya.  Kalau teman-teman bingung membaca tulisan di bawah ini, harap diperbanyak sorry ya….. Mohon koreksinya kalau ada yang tidak tepat dari tulisan saya ini (Tulisannya lumayan panjang.., gak harus dibaca semua koq…)

 

 

Sistem pengajaran di Secondary school sama dengan yang berlaku di perguruan tinggi.  Untuk setiap pelajaran siswa akan berganti guru sesuai bidangnya, sekaligus beda ruangan yang sudah diatur untuk setiap pelajaran (saya pernah baca sekolah-sekolah tertentu di Indonesia juga sudah menerapkan sistem seperti ini).  Karena itu orientasi sekolah dan masing-masing kelas untuk setiap pelajaran merupakan hal yang sangat membantu siswa saat mengawali sekolahnya di awal tahun ajaran.

 

Pelajaran yang wajib diikuti untuk siswa di Secondary School umumnya sama dengan pelajaran untuk anak-anak di primary School.  Kelompok pertama adalah Core subjects, yaitu English, mathematics, and Science.  Kelompok ke dua adalah Foundation subjects: History, geography, Art, Music, technology, Religious Education (RE), dan Physical Education (PE).  Untuk siswa kelas 7,8, dan 9 (setara dengan SMP); kedua kelompok pelajaran ini wajib diikuti, dan masih ditambah lagi satu pelajaran Modern Foreign Languages, yang bisa bisa dipilih salah satu di antara banyak pilihan: Spanish, French, German,  di beberapa sekolah bahkan ada pilihan Bahasa Urdu dan Arab.

 

Untuk kelas GCSE (year 10 dan 11) pelajaran wajib adalah yang tergolong core subjects, plus bahasa asing yang dipilih saat year 7, ditambah 3 atau 4 pelajaran lain yang diminati siswa sesuai dengan keinginannya sendiri.

 

Selama siswa berada di year 7-9, mereka akan mengikuti satu kali ujian nasional di akhir year 9.  Sama dengan yang berlaku di Primary School (year 6), ujian nasional ini hanya untuk pelajaran English, Science, dan Math.  Tak banyak yang saya ketahui tentang ujian nasional di year 9 ini, karena  K’ Lila memulai secondary school-nya di sini di akhir year 9, jadi tidak diikutkan ujian.  Sedangkan Irham saat ini baru duduk di year 7.

 

Di samping ujian nasional di atas, selama di secondary school setiap siswa akan menerima raport yang dikeluarkan sekolah setiap akhir tahun ajaran.  Raportnya ya..mirip dengan yang di Primary School juga.

 

Sejak year 10 siswa sudah diarahkan untuk menghadapi GCSE  (General Certificate of Secondary Education) yang merupakan sertifikat untuk siswa di akhir wajib belajar. Nilai GCSE tidak melulu didasarkan pada ujian nasional di akhir tahun ajaran di year 11, tapi sudah dicicil sejak mereka duduk di year 10.  Nilai GCSE untuk setiap pelajaran merupakan nilai kumulatif dari beberapa bagian tugas dan ujian.  Sejak year 10 siswa sudah diberikan tugas rumah alias ‘course work’ yang dinilai sampai 30 % dari total nilai umum pelajaran tsb di GCSE.  Selain itu pada pertengahan year 11 siswa kembali mengikuti ujian yang untuk mendapatkan nilai sekitar 30 % juga dari total GCSE.  Ujian final di akhir year 11 (sekitar bulai Mei-Juni) melengkapi nilai mereka untuk GCSE.

 

Seperti pernah saya utarakan di tulisan sebelumnya, tidak ada istilah tinggal kelas bagi anak-anak sekolah di UK.  Setiap tahun mereka naik terus ke kelas berikutnya.  Tak ada juga rangking bagi siswa dalam setiap kelas. Lantas bagaimana kita menilai kemampuan si anak ?   Ternyata ada system sendiri untuk membedakan kemampuan si anak di setiap pelajaran. 

 

Di awal tahun ajaran setiap siswa wajib mengikuti test penempatan untuk setiap pelajaran yang akan diikuti.  Hasil test ini akan menentukan si anak  akan berada di set mana untuk setiap pelajaran  Secara umum ada tiga level/set untuk setiap pelajaran di Secondary School, yaitu:  Top/Higher Set;  Intermediate Set; dan Fondation Set.  Bahan ajaran untuk setiap level sudah disesuaikan dengan kemampuan si anak yang didasarkan pada hasil test di atas. 

 

Penempatan siswa dalam level tertentu tidak tetap sifatnya.  Artinya setiap siswa bisa pindah ke set lain pada tahun berikutnya.  Hasil ujian pada  setiap akhir tahun ajaran biasanya dijadian acuan untuk menentukan level siswa di tahun berikutnya.  Jadi kalau seorang siswa di kelas 7 berada di Top Set, namun prestasinya menurun..dia bisa dipindahkan ke Intermediate set di year 8.  Sebaliknya kalau siswa Intermediate Set menunjukkan prestasi baik, maka dia bisa dinaikkan ke Top Set  tahun depannya.

 

Sistem beda level untuk setiap pelajaran ini berlangsung terus sampai akhir year 11, saat anak-anak mengikuti ujian akhir GCSE.  Karena itu bisa dimengerti  si anak bisa terus ketemu teman yang berbeda dalam setiap pelajaran.  Setiap siswa memang ditempatkan dalam form tertentu dengan satu orang guru yang bertindak sebagai form tutor.   Biasanya siswa dalam satu form hanya berkumpul saat absensi pagi sebelum pelajaran dimulai  dan sore hari sebelum sekolah usai.

 

Irham, anak saya misalnya, saat ini dia duduk dikelas 7y.  Setiap pagi dan sore semua anak yang masuk ke dalam form 7y akan berkumpul untuk di cek kehadirannya.  Pagi hari setelah absensi ini, masing-masing anak akan menuju kelas dengan pelajaran sama namun kelas berbeda sesuai level mereka untuk pelajaran tersebut.  Hasil test awal tahun ajaran baru kemarin menempatkan Irham di Top set untuk pelajaran Science dan Mathematics. Sedangkan penyesuaian level untuk pelajaran lain baru dilaksanakan di awal year 8, September nanti.

 

Timbul pertanyaan lagi adakah hubungannya keberadaan si anak pada set tertentu dengan nilai akhir GCSE di year 11 ?  Ternyata memang ada  dan erat sekali kaitannya.  Setiap siswa akan mengikuti ujian untuk setiap pelajaran yang sesuai dengan levelnya. Siswa yang berada di Foundation set akan mengikuti ujian yang sesuai untuk mereka dengan nilai maksimal yang mungkin didapat adalah C.  Siswa di Intermediate set  akan mendapatkan nilai maksimum B, sedangkan nilai maksimum A atau A* hanya mungkin didapat oleh siswa yang berada di Top set. Jadi bahan ujian yang diikuti siswa di Top Set merupakan yang tersulit dan terbanyak dibandingkan kedua set lainnya.  Menarik bukan ?  Inilah yang menentukan kemampuan siswa di setiap pelajaran.

 

Namun bahan ujian akhir yang harus diikuti setiap siswa bisa fleksibel sifatnya.  Meskipun siswa berada di Top Set, kalau dia merasa tidak yakin dengan kemampuannya, dia bisa milih ujian untuk Intermediate Set.  Biasanya hal seperti ini harus didiskusikan dulu dengan gurunya.  Nilai maksimum B, lebih  baik daripada ikut ujian Top Set tapi dapat nilai C.

 

Ujian akhir GCSE kadang ada juga yang dilaksanakan di akhir year 10, terutama untuk English Language (ada lagi English Literature), untuk memberi kesempatan mereka memperbaiki nilai pada tahun berikutnya.  Di akhir year 10 dua tahun lalu, K’Lila sulung saya, ikut ujian akhir untuk GCSE English.  Meskipun berada di Intermediate set dia memilih ikut ujian untuk Foundation Set. Hasil ujian dia mendapatkan nilai maksimum C.  Tahun berikutnya di Year 11, gurunya menawarkan lagi ikut ujian di level Top set untuk dapat nilai B atau A.  Tapi K’Lila menolak.

 

‘Ujian English Language tidak gampang, belum lagi pelajaran lain yang juga akan ujian pada saat yang sama, mendingan K’Lila fokus belajar ke English Literature’.  ‘Nilai C sudah cukup koq Bunda, toh GCSE C untuk English Language sudah memenuhi syarat minimal untuk melanjutkan di A-level dan universitas’. 

 

Itu jawaban K’Lila pada saat saya seperti ikut mendorongnya agar ikut ujian lagi.  Biasa…, ibu-ibu kan pengen anaknya dapat nilai bagus teruss….(payah..).  Syukur suami saya menyerahkan keputusan pada K’Lila, karena dialah yang tahu kemampuannya sendiri.  Alhamdulillah, saat itu saya terhindar dari sikap pemaksaan kehendak saya untuk anak.

 

Lho..koq ceritanya malah lari kemana-mana.  Kembali ke topik utama.  Ada hal unik lain yang juga bersifat standar untuk setiap pelajaran di kelas GCSE (year 10 dan 11).  Setiap pelajaran ada Exam Board-nya !  Exam Boards adalah lembaga non profit yang menyiapkan bahan pelajaran, menyelenggarakan ujian, menilai hasil ujian, sampai mengeluarkan sertifikat untuk siswa untuk setiap hasil yang didapat.

 

 Exam boards ini bersifat independen, jadi tidak ada campur tangan pemerintah dalam menyiapkan ujian dan menilai hasil ujian siswa.  Tentu saja materi ajar untuk setiap pelajaran sudah disesuaikan dengan kurikulum nasional yang sudah ditentukan Pemerintah.  Untuk menjaga standar materi ajar yang disesuaikan dengan perubahan zaman, beberapa tahun sekali materi setiap pelajaran untuk setiap exam board akan diinspeksi oleh lembaga pemerintah terkait.

 

Exam Boards yang ada di UK ada beberapa yang saya tahu, terutama yang berbasis di England (di Scotland, Northen Ireland atau Wales bisa beda lagi); yaitu AQA (The Assessment and Qualification Alliance); OCR (Oxford Cambridge and RSA Examinations); Edexcel (saya cari-cari gak dapat kepanjangannya apa).  Ketiga exam boards ini yang paling banyak dipakai untuk GCSE.  Selain itu masih ada lagi WJEC yang merupakan Welsh based Exam, dll.

 

Setiap sekolah bisa memilih sendiri exam boards mana yang akan dipakai untuk setiap pelajaran.  Dan exam boards yang dipilih tidak harus sama untuk setiap pelajaran.  Bisa saja untuk Science sekolah A milih AQA, namun matematika pakai OCR, dsb.  Apa alasan sekolah memilih exam boards tertentu ?  Ini saya tidak tahu jawabannya, kecuali untuk pelajaran tertentu yang hanya diselenggarakan oleh satu exam board.  Mau gak mau sekolah harus memilih exam board tersebut.

 

Setelah ujian GCSE, siswa akan mendapat nilai untuk masing-masing pelajaran tertulis di sertifikat yang dikeluarkan oleh exam board ybs.  K’Lila, misalnya, tahun lalu untuk English Language, English Literature, ICT dan Food Technology,  sertifikat nilainya dikeluarkan oleh AQA.  Sedangkan untuk Science dan Math sertifikat GSCE-nya dikeluarkan oleh OCR.  Berakhir sudah wajib belajar bagi anak-anak di UK.  Tak ada ijazah/STTB dengan nilai di halaman belakangnya.  Sertifikat nilai GCSE adalah bukti si anak sudah selesai year 11 atau wajib belajar.  

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, May 15, 2007

Sistem Pendidikan di England (2): Kurikulum yang mendukung kreatifitas anak

 

Kali ini saya ingin menuliskan suasana belajar di Primary School, berdasarkan pengalaman menyekolahkan  anak-anak saya di Leeds.

 

Seperti halnya di Indonesia , sekolah dasar di UK (Primary School) juga terdiri dari kelas satu sampai enam (year 1-6).  Selama di Primary School murid melalui dua tahap yang disesuaikan dengan kurikulum nasional.  Kedua tahap tersebut dikenal dengan ‘key stage 1’ untuk kelas ‘reception (sebelum kelas 1 SD), kelas 1, dan kelas 2.  Sedangkan ‘key stage 2’ diberlakukan untuk kelas 3,4,5, dan 6.

 

Setiap subjek (pelajaran) yang diajarkan kepada murid didasarkan pada kurikulum nasional UK.  Subjek yang diajarkan terdiri dari subjek inti, yaitu Bahasa Inggeris, Matematika, dan Science (IPA).  Selain itu juga ada pelajaran dasar yaitu Sejarah, Geografi, Kesenian, Musik, Teknologi,  Pendidikan Agama, dan Pendidikan Olahraga.  Dalam kurun waktu 6 tahun anak-anak bersekolah di SD, hanya ada 2 kali ujian Nasional, yaitu di akhir ‘key stage 1’ (kelas 2 SD) dan di akhir ‘key stage 2’ (kelas 6 SD).  Subjek yang diuji adalah Bhs. Inggeris, Matematika, dan Science.  Nilai yang didapat oleh setiap anak kemudian akan dicantumkan dalam sebuah sertifikat yang dikeluarkan oleh ‘Dinas Pendidikan’.  Sedangkan rata-rata nilai murid untuk setiap subjek dari setiap sekolah akan dimumkan dalam ‘League Tables’ (table liga) yang bisa diakses oleh masyarakat umum.

 

Selain ujian nasional di atas, tak ada ujian lain yang harus diikuti murid. Info terakhir saya dapat sekarang malah tidak ada lagi ujian nasional untuk kelas 2, hanya tinggal untuk kelas 6. Alasannya anak-anak tidak boleh ‘stress’ dengan ujian !  Tak ada ujian tengah semester, ujian semester, dsb (bandingkan dengan anak-anak di Indonesia).  Walaupun demikian murid tetap mendapatkan ‘raport’ (seperti di Indonesia) berisi penilaian guru kelas untuk setiap subjek yang diajarkan.  Raport ini dibagikan setahun sekali, biasanya pada akhir semester, menjelang libur musim panas (bulan Juli).   Nilai yang dicantumkan dalam raport didasarkan pada penilaian sehari-hari di kelas plus ujian kelas bisa dilakukan kapan saja oleh guru.

 

Yang menarik nilai yang tercantum bukan dalam bentuk angka 1-100 atau huruf A,B,C,D atau E, tapi berupa angka 1,2,3,4 atau 5 diikuti huruf a,b,dan c yang menunjukkan level nilai si anak.  Jadi nilai 1a berarti lebih tinggi dari 1c, atau dengan kata lain anak dengan nilai 1a artinya dia paling top di level 1.  Nilai 4a berarti lebih tinggi dari 4c, dst.  Selain itu..raport anak juga berisikan uraian guru bagaimana sikap, usaha, dan kemampuan anak terhadap masing-masing subjek.

 

Guru yang mengajar di Primary School di UK, mirip dengan guru mengajar di SD Indonesia. Bedanya, setiap kelas diajarkan oleh 2 guru tetap, plus 1 guru tambahan, namun yang menjadi penanggung jawab kelas  1 orang guru (wali kelas). Karena itu si guru tahu persis bagaimana tingkah laku si anak sehari-hari selama di sekolah, dan di kelas khususnya.  Ini semua dicantumkan dalam raport si anak.  Dan yang pasti tak ada yang tinggal kelas, setiap tahun si anak naik terus ke kelas di atasnya !

 

Terus terang sistem raport seperti ini sangat menarik perhatian saya.  Di Indonesia berdasarkan pengalaman anak-anak saya saat TK, hanya untuk anak TK diberlakukan raport seperti ini (please correct me, if I am wrong).  Sedangkan di SD, SMP, dan SMA kemampuan murid hanya dinilai berdasarkan kemampuan akademiknya.  Kalaupun ada hal lain yang tertulis hanya kolom tambahan seperti ini kelakuan:  baik (rasanya saya belum pernah melihat ada raport yang bertuliskan jelek).

 

Hal lain yang menarik adalah tak ada anak yang bodoh di dalam kelas.  Anak yang kurang pandai Matematika atau Science, bukan berarti dia tak pintar, karena bisa jadi dia pintar dalam menggambar atau olaharaga, atau sejarah, dsb.  Potensi inilah yang digali oleh guru pada setiap murid.

 

 Saya ingat pada saat pertama kali saya dan suami menghadiri ‘parent evening’ (pertemuan orangtua dan guru) yang diadakan secara regular 2 kali setahun, untuk membahas bagaimana ‘performance’ anak.  Guru kelas Ilman, bungsu saya yang masih kelas 1 saat itu, memperlihatkan pekerjaan Ilman di kelas.  Hampir setiap subjek, kecuali matematika, berisi gambar !  Dengan tersenyum sang guru mengatakan bahwa Ilman punya imaginasi dan daya ungkap yang bagus sekali.  Mulanya saya tidak mengerti maksud si ibu guru.  Kemudian saya baru nyambung, rupanya karena kosa kata Bahasa Inggeris Ilman masih terbatas, dia mengungkapkan pikiran dan jawaban atas pertanyaan guru dengan gambar !  Walah..

 

Lain halnya dengan Irham, yang waktu itu kelas 4 SD.  Secara lisan Bahasa Inggerisnya sudah oke, tapi saat menulis dia sepertinya punya masalah dengan tenses.  Dia tidak bisa membedakan kapan harus pakai kata kerja past atau present dalam kalimatnya.  Ketika kami memberitahukan bahwa dalam Bahasa Indonesia tidak ada perbedaan kata kerja yang digunakan sehubungan dengan waktu, si guru baru mengerti sambil manggut-manggut.  Dengan simpatik dia berkata:  ‘This is not his fault, then’.   ‘I will focus more on this matter, until he gets the sense of it’.   Wah, lega rasanya..

 

Di Indonesia, kini sudah mulai diterapkan sistem tanpa ranking di kelas yang dulunya dibuat untuk membedakan kemampuan intelektual satu anak dengan anak lainnya.  Karena menurut para ahli hal ini bisa membuat anak stress dan semakin tertinggal di kelas.  Di UK setahu saya memang sama sekali tidak ada sistem ranking di kelas.  Lantas bagaimana penghargaan diberikan untuk anak-anak yang punya kemampuan lebih ?  Pengalaman dengan sekolah anak-anak saya di Leeds (saya yakin begitu juga di kota lain di UK), saya melihat cara yang cukup simpatik dan mendorong si anak untuk terus berkarya lebih baik.

 

Setiap hari, menjelang saat pulang sekolah, guru mengumumkan ‘star of the day’di setiap kelas.  Kepada si murid terpilih hanya diberikan kertas print out warna-warni yang bertuliskan namanya sebagai ‘star of the day’.  Pemberian penghargaan semacam ini tidak melulu didasarkan pada kemampuan akademiknya di kelas hari itu, tapi mencakup segala hal. Apakah karena hari itu dia telah bekerja keras mengerjakan soal sulit (walaupun dia menjawab nggak benar), apakah karena si anak yang biasanya ribut di kelas hari itu bersikap manis, atau bisa juga karena hari itu untuk pertama kali dia berhasil menghabiskan makan siangnya, dsb.

 

Selain penghargaan setiap hari, juga ada ‘star of the week’ yang dicatat dibuku dan diletakkan di lobby sehingga bisa dibaca setiap orang tua yang datang.  Untuk setiap pekerjaan rumah, atau tugas, atau apapun yang dikerjakan si anak dengan baik, diberikan satu ‘stamp’ yang ditempelkan pada buku khusus dan disimpan di sekolah.  Akhir tahun jumlah ‘stamp’ yang didapat masing-masing anak dihitung, dan yang paling banyak akan mendapatkan hadiah dari guru berupa alat tulis, voucher untuk beli buku, dll. 

 

Secara umum saya melihat bahwa pendidikan dasar anak-anak di UK tidak melulu didasarkan pada kemampuan intelektual (IQ) tapi juga kemampuan emosional (EQ).  Di Indonesia anak-anak sejak usia SD (bahkan TK) sudah harus ikut berbagai les (matematika, Bhs Inggris, musik, renang, dsb) di luar jadwal sekolah, pokoknya anak harus serba pintar dalam setiap pelajaran, nggak peduli dia suka atau tidak (Tapi kalau ke TPA untuk belajar mengaji, bagi saya 'wajib' hukumnya).   Anak-anak kita di Indonesia terbiasa menghafal rumus tanpa mengerti rumus itu datangnya darimana (saya dulu juga gitu lho).  Karena itu nggak heran, anak-anak keluarga Indonesia di Leeds,  pintar-pintar terutama untuk Matematika.  Tapi kalau disuruh cerita atau menulis, biasanya baru kelihatan tersendat.

 

Selain subjek yang didasarkan pada kurikulum nasional, anak-anak juga diajarkan bahwa beda pendapat itu adalah hal biasa, bahwa setiap anak itu adalah unik, beda dengan lainnya. Bahwa mereka harus bisa menghormati dan menghargai orang lain yang berbeda dengan mereka, baik warna kulit, budaya, atau agama.  Saya percaya hal ini penting dalam pembentukan pribadi anak dan akan mempengaruhi kemampuannya dalam hidup bermasyarakat kelak mereka dewasa.    Kebetulan sekolah anak-anak saya ini merupakan sekolah multi-cultural dari berbagai background etnis di dunia.  Karena letaknya di antara perumahan International Student dan kampus, sebagian murid adalah putra-putri  mahasiswa yang notabene berasal dari berbagai negara dan benua. 

 

Sistem pembelajaran juga tidak melulu harus di dalam kelas.  Pada saat mereka diajarkan tentang tumbuhan misalnya, mereka diajak keluar kelas untuk mengamati berbagai jenis tumbuhan di sekitar sekolah mereka.  Kepada mereka juga dibagikan benih tanaman tertentu yang berbeda untuk setiap anak yang kemudian ditanam di dalam pot.  Anak-anak bertanggung jawab terhadap pot mereka masing-masing dengan menyiram dan mengamati pertumbuhan tanaman tersebut.  Semua itu kemudian ditulis menjadi sebuah karangan.  Kebiasaan menulis ini juga dilakukan sehabis anak-anak bepergian ke luar sekolah, apakah ke ‘farm’, ‘park’ atau museum.  Tak ada batasan untuk menulis seperti keinginan guru.  Si anak boleh menulis apa saja sehubungan dengan perjalanan mereka.

 

Di Leeds anak-anak usia SD benar-benar menikmati masa kanak-kanaknya.   Mereka bisa main seusai sekolah, tidak selalu harus berkutat dengan pr yang segunung.  Sebagai orang tua, saya ikut senang melihat anak-anak saya gembira di sekolah, dan gembira bermain di luar jam sekolah. (Tapi..dasar Ibu Indonesia, saya kadang malah berpikir anak-anak di sini koq santai banget ya..).

 

Kini di Indonesia banyak bermunculan sekolah unggul (umumnya berasrama) yang mengandalkan keunggulan akademik (IQ) dan pendidikan agama (SQ) untuk murid-muridnya.  Apakah pendidikan yang terkait EQ juga sudah diperhatikan ?  Saya tidak berani berkomentar,  karena tidak tahu banyak tentang hal ini.

 

Sesudah lebih tiga tahun di Leeds, anak-anak saya sudah sangat terbiasa dengan pola pengajaran di sini.  Karena kami segera pulang ke Indonesia setelah suami selesai sekolahnya, saya mulai berpikir bagaimana sekolah anak-anak saat pulang nanti ?  Tentu mereka butuh waktu untuk bisa beradaptasi lagi dengan sistem di Indonesia (kan nggak mungkin saya yang mengubah sistemnya, ha..ha..).  Terpikir oleh saya bahwa untuk mempermudah anak-anak beradaptasi di sekolah, saya akan masukkan mereka les-les privat untuk pelajaran di sekolah.  Lho ?  Iya..nih, kembali ke Indonesia..nanti ..pikirannya jadi gaya Indonesia lagi.   Payahhh …..