Friday, July 10, 2009

Irham's Big Step....

Kalau si bungsu saya, Ilman, sudah bisa menjawab dengan yakin akan cita-citanya, Irham si tengah..memang masih pikir-pikir mau jadi apa kelak.  Walaupun demikian, Irham tahu pasti mau sekolah dimana usai SMP tahun ini.  Dia mau melanjutkan  SMA-nya di United World College (UWC) di Singapore ! ( ini alamatnya )   Dari mana ide ini muncul ?

 

Keinginan Irham ini bermula awal 2008 lalu ketika beberapa student dari College terkemuka ini berkunjung ke Banda Aceh dan mengadakan semacam workshop bagi sejumlah pelajar dari seluruh SMP negeri di Banda Aceh.  Bersama beberapa teman dari sekolahnya, Irham kebetulan ikut menjadi peserta workshop yang berlangsung selama 3 hari itu.

 

 

Usai workshop tsb dia selalu mengatakan pengen sekali sekolah di sana.  Sambil lalu saya menjawab kalau kami gak bakalan sanggup membiayainya ke sana.  ‘Don’t worry, I am going to get a scholarship for that’, balas Irham.   Terus terang saya yang sejak awal memang tidak begitu tertarik memasukkan anak-anak ke boarding school saat usia SMA, tidak begitu memperhatikan keinginan Irham ini.

 

 

Suatu hari di awal bulan Desember 2008, saat pulang sekolah Irham menunjukkan formulir pendaftaran untuk UWC plus seabreg persyaratan untuk mendapat beasiswa ke sana.  Dibantu ayahnya dengan serius Irham mengisi semua formulir untuk persyaratan administrasi. 

 

Akhir Desember Irham mendapat panggilan test tertulis, rupanya dia dinyatakan lolos saringan administrasi.   Terus terang saya belum bisa melepaskan Irham sekolah jauh begitu, namun saya juga berpikir biarlah Irham ikut tes, bisa menjadi pengalaman baginya.   Yang ikut test begitu banyaknya , belum tentu Irham bisa lulus.

 

 

Seminggu kemudian, bersama 7 peserta lainnya Irham dinyatakan lulus ujian tertulis beberapa pelajaran pokok.  Saat itu saya..baru tersentak.  Wah…gimana kalau Irham lulus wawancara nanti ?  Ketika kegundahan hati saya lepaskan ke si Abang, dia menenangkan saya dengan mengatakan kita lihat saja nanti.  Toh Irham belum tentu lulus.

 

 

Awal Januari 2009, selama dua hari penuh Irham mengikuti psikotest, test kesehatan, dan wawancara yang langsung dilakukan oleh beberapa guru dari UWC Singapore plus pihak Sampoerna Foundation sebagai pendamping di Indonesia.

 

Setelah semua test belalu, esoknya saya bertanya pada Irham:  ‘Let say..you pass all the test, and chosen to be the winner for scholarship.  How do you feel about it, Bang Awam ?.  Dengan riang Irham menjawab:  ‘I will be very happy of course’.

 

 

Irham tahu persis, saya belum mengiyakan dan menyatakan setuju penuh untuk dia sekolah ke Singapore.  Dengan serius saya kemudian melanjutkan:’ How about if I say that you cant go ?’.   Ini bukan pertanyaan gampang untuk dijawab, saya tahu itu.

 

 

Dibandingkan kakak dan adiknya, Irham mempunyai pembawaan yang lebih tenang, tidak selalu gampang dibaca keinginannya, dan lebih suka mengalah dalam situasi sulit.

Tak perlu lama bagi Irham untuk menjawab pertanyaan saya: ‘I wont go if you are not happy, mum.  I will give the chance to the second place to go’..   Saya hanya terdiam dan tidak lagi menyambung diskusi sore itu.  Beasiswa ke UWC ini memang hanya untuk satu orang.  Berarti peluang Irham adalah 1/8 dibandingkan seluruh peserta yang tersisa.

 

Dua bulan berlalu, diskusi tentang sekolah ke Singapore tak lagi bergema di rumah kami, sampai awal Maret lalu, Irham membawa pulang selembar fax dari sekolahnya.  Tak terlihat keriangan berlebihan di wajahnya.   Di mata saya dia biasa-biasa saja saat mengatakan:  ’ I got the scholarship, mum’ sambil menunjukkan lembaran fax yang dipegangnya.

 

Seharusnya saya gembira akan keberhasilan Irham.  Tapi saya kalah dalam menyembunyikan perasaan dibandingkan Irham.  Dia tahu saya berat sekali untuk melepasnya merantau.  Ya..ampun, umurnya baru 14 tahun..!  Kalau dia di sana, betapa sepinya rumah tanpa kak lila dan Irham.  Tinggal Ilman yang di rumah. Bagaimana saya tidak sedih ?  ’Dont worry mum, if you dont want me to go there, I wont go...’

 

 

Kami diberi waktu seminggu untuk menyatakan kesediaan menerima beasiswa untuk Irham.   Keputusan harus diambil segera.  Dengan tegas si Abang menyatakan dia gembira dan mendukung kelulusan Irham.  Namun kalau itu ternyata tidak membawa kebahagiaan bagi saya yang akhirnya berdampak timbulnya rasa tidak damai  dalam keluarga, sebaiknya kemenangan Irham ditolak saja.

 

 

Saya tidak mau menjadi Ibu yang egois dan hanya mementingkan perasaan sendiri.  Saya mencari tahu alamat penerima beasiswa tahun-tahun sebelumnya.  Saya mendatangi orangtua mereka dan bertanya ini-itu bagaimana pengalaman mereka melepaskan anak seusia Irham sekolah Singapore.

 

Kemudian setelah saya cukup info, tanpa ikut serta ayahnya, saya mengajak Irham berbicara.  Dengan hati-hati saya bertanya pada Irham apakah dia memang benar-benar ingin sekolah disana.  Sudahkah dia siap untuk mandiri jauh dari rumah.  Saya juga membayangkan pada Irham kesulitan yang mungkin  dihadapinya  kelak jauh dari rumah.   Irham terlihat sangat yakin akan keinginannya.

 

Akhirnya walaupun berat, saya mengatakan padanya bahwa dia boleh pergi.   Saat itulah dia bersorak gembira.  ’Thank you, mum.   I wont let you down’.   Dengan segera berita ini menyebar ke seantero rumah.   Ilman mendatangai saya.  ‘Don’t be sad, mummy.   You still have me at home for the next three years’.  Lho.., Ilman mau sekolah keluar juga ? 

 

 

Begitulah.., awal Juni kemarin Irham mengikuti orientasi seminggu di kampus UWC Singapore.  Saya tidak ikut mendampingi Irham, karena sedang training di Wageningen.  Si Abang mengantar Irham sampai Medan saja, kemudian melepas Irham terbang sendiri ke Singapore. ’Sekalian latihan’, jawab si Abang ketika saya protes.  Sabtu, 6 Juni kemarin si Abang menjemput kembali Irham di Medan.  Kali ini Irham juga harus terbang sendiri dari Singapore ke Medan.

 

 

Usai mengantar Irham naik pesawat ke Singapore minggu lalu, si Abang mengirim email sangat mengharukan untuk saya.   Ah.., Irham memang sudah besar....

 

 

 

 

Wageningen, 7 Juni 2009

Saturday, May 23, 2009

'Desa Wageningen"

 

Empat hari sudah saya di Wageningen.   Sejak senin 18 Mei training yang saya ikuti sudah mulai.   Setiap hari kelas dimulai jam 8.30 am dan berakhir jam 5.30 pm.   Lumayan padat..., makanya belum sempat kemana-mana.  Apalagi toko-toko di city centre, di sana  disebut centrum,  sudah tutup pada pukul 6 sore. 

Walaupun demikian, ditemani Ida, saya sempat juga jalan seputar centrum melihat-lihat suasana di Wageningen.   Wageningen adalah kota kecil (barangkali lebih tepat disebut desa) dengan penduduk hanya sekitar 35.000 orang.  Hampir 40 % diantara penduduknya adalah mereka yang berhubungan dengan University of Wageningen, baik sebagai students ataupun staf..  Wageningen University and Research Centre adalah bagian utama dari kota ini.  Seperti kota pendidikan gitu.

 

Menyusuri jalan, terasa sekali suasana yang tenang dan nyaman.  Pohon-pohon  menghijau yang begitu banyak tumbuh dumana-mana memang menambah suasana kota menjadi lebih sejukdi akhir spring ini.  Jalan-jalan dalam kota cukup unik, dibandingkan di UK misalnya.  Karena sepeda termasuk sarana transportasi utama, maka ada jalan khusus yang disiapkan bagi pengendara sepeda, yang berdampingan dengan trotoar untuk pejalan kaki.  Barangkali ini memang khas jalan-jalan di Belanda.

 

Ini memang bukan kunjungan pertama saya ke Belanda.  Tapi baru kali ini saya bisa melihat kehidupan di sana secara lebih dekat.  Hal lain yang menyenangkan di Wageningen adalah hampir semua penduduknya bisa berbahasa Inggris dengan sempurna.   Jadi gak perlu kuatir gak ada yang mengerti kita...

 

 

 

Bersama 28 peserta lain dari berbagai negara, saya ditempatkan di hotel milik Wageningen Uni yang sekaligus merupakan tempat kami training. Kebanyakan peserta berasal dari Afrika da Asia, hanya satu bule-nya. yaitu pesera dari Georgia.

 

Enaknya, training selama empat minggu tidak diisi dalam kelas terus, tapi banyak juga jalannya.  Nanti sore check out dari Wageningen.  Selama seminggu kami akan dibawa ke beberapa kota di Belanda dan Jerman.  Bukan sekedar jalan-jalan sih, mirip field trip dengan full assignment.  Karena acara field trip ini, rencana mengelilingi Wageningen ditunda dulu.., nanti disambung lagi saat kembali..

 

 

Wageningen, Kamis 21 Mei 2009

Monday, May 18, 2009

Jakarta-Amsterdam: Perjalanan sendiri yang tak cukup nyaman

Alhamdulillah saya telah tiba di bandara Schipol, Amsterdam, setelah  perjalanan panjang melelahkan.  Berangkat dari Jakarta Sabtu malam 18.45 WIB, transit di KL satu jam, terus langsung terbang dari KL-Amsterdam. Selama terbang hampir 16 jam, rasanya sungguh tak nyaman, masalahnya saya dapat tempat duduk di tengah, di antara dua orang bule yang sepanjang perjalanan minum alkohol terus.   Mereka memang cukup ramah.., tapi baunya itu lho, bikin pusinggg..!.   Mau bergerak banyak juga gak gampang, akibatnya kaki saya lumayan bengkak karena peredaran darah tak lancar.  Saya sampai kaget saat mau bangun.

 

Sudah lama saya tidak terbang jauh sendiri.  Terakhir perjalanan jauh saya adalah akhir tahun 2004 dan akhir tahun 2005, saat saya bolak-balik Leeds-Banda Aceh.   Saat itu perjalanan sendiri yang tak nyaman memang tidak terasa sama sekali.  Bisa dikatakan saya mati rasa selama dalam perjalanan.  Rasa hati saya lebih banyak tertuju ke Banda Aceh, dengan musibah dahsyat menimpa keluarga besar saya.

 

Lebih 15 tahun lalu, saya sebenarnya sudah terbiasa jalan sendiri, bahkan lebih jauh dari perjalanan Indonesia-UK.   Kala itu saya beberapa kali bolak-balik Indonesia-Canada, plus ketika menjemput si sulung untuk bergabung dengan saya dan Ayahnya di Canada.

 

Tapi itu dulu..., saya masih sangat muda dan penuh excitement akan hal-hal baru.  Tentu saja lain dengan sekarang.  Sebelum memutuskan untuk mendaftar ikut training di Wageningen, terpikir oleh saya...malas banget harus terbang sendiri.   Belum lagi harus bawa-bawa barang berat.   Belum lagi harus ninggalin anak-anak selama sebulan.

 

Si Abang terus mendorong saya.., ‘Ayo daftar, this is a good time for you to travel for a while.  The kids will be fine with me’.  Itu katanya. 

 

Untuk memudahkan urusan saya, si Abang sudah mengatur jemputan untuk saya di Cengkareng saat tiba dari Banda Aceh.  Dia juga sudah booking hotel untuk saya selama menginap dua malam di Jakarta.  Si Abang juga mencari-cari via PPI Wageningen kalau-kalau ada yang dia kenal di sana.

 

 

Alhamdulillah ketemu.  Ada seorang mantan mahasiswanya yang kini sedang sekolah di Wageningen.  Setelah dikontak, Ida (itu namanya) dengan senang hati akan menjemput saya di Schipol, Amsterdam.  ’Biar gak repot jalan sendiri ke Wageningen, bu...’, kata Ida.

 

Dan disinilah saya sekarang.  Saya tiba sekitar jam 6 pagi waktu lokal.  Beres imigrasi dan bagasi, saya duduk di ruang tunggu kedatangan.   Menunggu Ida menjemput.   Karena hari Minggu, train paling pagi dari Wageningen baru ada sekitar jam 7 pagi.  Jadi saya harus sabar nunggu dia tiba 1,5 jam kemudian.   Daripada bengong,  saya. Buka komputer aja..nulis jurnal  untuk MP.  Untuk diingat nanti.

 

 

Schipol, Amsterdam

Sunday, 17 May 2009 (08.20 am)

Friday, May 15, 2009

On My Way to Wageningen

Sudah dua hari ini saya..ada di Jakarta.  Ngurus ini-itu di kedutaan Belanda.  Insya Allah sore ini saya akan terbang ke Amsterdam via Cengkareng.   Rada deg-degan juga.  Sudah lama saya gak jalan jauh sendiri.  Dulu sih waktu masih muda..oke-oke aja.   Tapi sekarang...sudah tua gini, ada cemasnya juga.

 

Saya akan ikut training di Wageningen selama 4 minggu.  Gabung dengan peserta lain dari beberapa negara.  Kebanyakan sih dari negara-negara Afrika.

 

Anak-anak ditinggal dulu sama Ayah-nya.  Biar all the boys take in charge at home, while the girls are out of the country he..he...

 

 

Singkat saja kali ini.  Insya Allah cerita lain di up date nanti.  Wish me luck ya....

teman-teman

 

 

Lily

Jakarta, 16 Mei 2009

Monday, May 4, 2009

Anak ikut UN..Ortu ikut pusyinggg..

Dua bulan terakhir ini aktivitas ‘the duo’ alias Irham dan Ilman lumayan padat.   Selain kegiatan rutin sekolah, les, mengaji, ada tambahan lain lagi yaitu ‘try out’ UN.   Mereka berdua ikut UN tahun ini.   Irham UN SMP, dan Ilman di SD.

 

Biasanya saya selalu meliburkan anak-anak dari kegiatan akademik pada hari Minggu.   Biarlah mereka bermain sepuasnya ehari dalam seminggu.   Tapi ’try out’ mereka ternyata selalu diadakan hari Minggu.   Alasannya biar kegiatan sekolah tak terganggu.  Lho.., bukannya ’try out’ itu adalah kegiatan sekolah juga ?  

 

 

Akibatnya mereka jadi hampir tak punya hari libur.   Ilman si bungsu suka ngomel: ’Why do I have to work hard on Sunday ?’   Apa boleh buat.   Mereka berdua memang harus kejar banyak…, soalnya ujian seperti ini memang hal baru bagi mereka.

 

Selain di sekolah, saya dan si Abang ikut ‘menggenjot’ mereka di rumah.   Si Abang ikut sibuk mencari-cari bahan dan contoh soal UN dari internet. Kami juga ikut menunggui Irham membahas contoh soal.  

 

Terus terang saat membaca soal-soal tsb, saya ikut bingung.   Sungguh tidak sederhana.   Bahasa Indonesia, misalnya.  Kalimatnya panjang-panjang.  Jawabannya meragukan.   Buat Ilman yang perbendaharaan katanya masih terbatas  pada bahasa sehari-hari, sering kali tidak mengerti arti kalimat yang dituliskan.   ’What does serbaguna  mean ?’ suatu kali dia bertanya. 

 

 

Begitulah, selama Irham UN minggu lalu..kami berdua (terutama si Abang) mendampinginya setiap malam, mempersiapkan ujian keesokan harinya.  Kini UN SMP telah selesai.  Irham masih harus ikut ujian sekolah dan ujian nasional untuk kelas bilingual.   Jadi dia masih harus...fokus belajar.

 

 

Mulai 11 Mei minggu depan, giliran Ilman yang akan ujian.   Dia mulai cemberut lagi.   ’I wish...I did not have to take this kind of exam...’.     Saya jadi ikut pusing karenanya……..

 

 

 

 

Banda Aceh, 5 Mei 2009

lily

Friday, April 17, 2009

‘Cita-cita….’

‘Apakah cita-citamu kelak ?’   ‘Ingin menjadi apa kalau besar nanti ..?’

Dalam suatu kurun waktu, mungkin kita semua pernah menerima pertanyaan seperti itu.  Termasuk juga saya.  

 

 

Saya ingat, jawaban saya untuk pertanyaan tersebut berbeda setiap saat.  Saya pernah ingin menjadi dokter.  Sepertinya keren amat...dengan stateskop tergantung di leher.., jalan dilorong-lorong rumah sakit.   Saya juga pernah ingin menjadi wartawan olahraga khusus untuk peliputan event international.  Kalau ini jelas karena saya pada dasarnya suka jalan...(he.he..).   Belakangan menjelang usai SMA, saya tak lagi menjawab khusus.  Pokoknya ingin menjadi orang yang berguna untuk nusa-bangsa.   Itu jawaban klise memang ( padahal sebenarnya bingung mau jawab apa).

 

 

Kalau sekarang saya menjadi dosen.., kapan keinginan untuk itu muncul ?   Gak tahu juga sih...  Semua mengalir begitu saja.

 

 

Kini pertanyaan yang sama sering kali saya tanyakan pada ketiga anak kami.   Si sulung kak Lila kini sudah punya jawaban yang lebih jelas.  Ingin jadi orang yang ahli di bidang aplikasi komputer (apa ya..profesinya ?).   Ini berhubungan dengan kuliahnya tentu saja,  ’Information technology’.  

 

 

Si tengah Irham, masih belum punya jawaban pasti.   Waktu berusia 3-4 tahun dulu, saya ingat dia menjawab:’ mau jadi tukang parkir aja..’   Kenapa ?   ’Kan enak jadi tukang parkir, tinggal pritttt...langsung dapat duit...’.  itu jawabnya.  Boleh juga logikanya..

 

 

Lain halnya dengan si bungsu Ilman.   Sudah dua tahun ini dia punya jawaban cukup pasti dan konstan.   ’I want to be a world class architect!’.  Itu jawabnya selalu.   Jawaban ini bukan timbul begitu saja.   Sekitar dua tahun lalu, saat masih duduk di kelas 4 SD di Leeds, kelas Ilman pernah bikin acara diskusi tentang ‘what are you going to be…when you grow up’.  Ceritanya mereka diskusi tentang berbagai jenis karir dan profesi yang bisa diraih kelak.

 

Dengan bantuan guru kelas, mereka mencoba mengira-ngira profesi apa yang sesuai untuk masing-masing anak berdasarkan bakat yang kelihatan di kelas.   Ilman yang cukup lumayan dalam matematika, sekaligus suka menggambar.., oleh gurunya diterangkan bahwa;’ an architect may suit you, Ilman’.

 

Sejak itu..Ilman mencari tahu lebih banyak tentang profesi arsitek.   Terkadang dia masih ingat cita-cita sebelumnya yang sering diucapkan, yaitu mau jadi pilot pesawat tempur.  Dia memang suka sekali segala sesuatu yang berhubungan dengan pesawat.   Karena itu kadang dia menjawab dengan tambahan :’I want to be an architect that can design an airplane, too…’

 

Ilman bukan saja sudah tahu mau menjadi apa.  Dia juga sudah mencari tahu mau sekolah dimana untuk itu.   Dia ingin sekolah di MIT alias Massachusett Institute of Technology di Amrik sana.   Menurut lman, MIT adalah universitas paling oke dan merupakan ‘world class university untuk bidang arsitektur’ .    Saat saya bilang..bahwa sangat sulit masuk ke sana.   ‘You have to be very-very good to get in there’.   Dia terdiam.  Kemudian menjawab: ‘I will work very-very hard then…’

 

Beberapa hari kemudian dia cerita lagi kepada saya.  ‘I know an easier way to get to MIT’.   How ?    ‘I will go to Shanghai Institute of Technology..first’.  Tentu saja saya bingung.  Kenapa Shanghai ?  ‘Because in Asia only Shanghai Institute that have a link to MIT’.  ‘If I am good in Shanghai, then it will be easier for me to go to MIT’.   (Amin)

 

Saya terdiam…sebelum kemudian bertanya ini-itu..tentang Shanghai  Lha saya memang gak tahu apa-apa tentang hal ini.  Rupanya saat saya bilang sulit sekali untuk masuk MIT, dia mencari tahu gimana caranya untuk lebih mudah. 

 

Nah.., apakah cita-cita Ilman akan berubah lagi nanti ?   Kita lihat saja… 

 

 

Banda Aceh, 17 April 2009

Thursday, March 26, 2009

Sibuk..buk..buk…

Aduh…lama sekali saya tak sempat ngintip MP, apalagi untuk posting.   Sejak pertengahan Desember 2008, berbagai pekerjaan seperti berkejaran minta diselesaikan.  Mulai dari membantu dan menyiapkan the boys untuk ujian semester, menyiapkan bahan ujian akhir semester di kampus, plus memeriksanya kemudian (ini yang bikin pusing), sampai memberi nilai dan melaporkannya ke bagian pengajaran di fakultas.

 

 

Itu kegiatan di luar rumah.  Di rumah, saya juga menghadapi problem domestik.  Salma, asisten RT kami, terpaksa kami relakan pindah ke rumah adik saya.  Skala prioritas.  Mereka punya dua batita yang butuh tenaga tambahan untuk membantu Silvie, sang ibu.

 

 

Walaupun demikian. Di sela-sela kesibukan saya dan si Abang di kampus, kami menyempatkan diri untuk berlibur sebentar dengan anak-anak pertengahan Januari lalu ke Kuala Lumpur. Sekalian bisa nengok kak Lila.  Lagian Ilman sudah beberapa kali protes:  ‘Bang Awam and I are the only one that have never been on the plane since we came back from England.   I already forgot the feeling of being on a plane’.   Lho…apa hubungannya ya…?

 

 

Jadilah kami ke KL untuk beberapa hari.  Alhamdulillah, ‘Air Asia’ lagi-lagi sangat membantu.   Lumayan.  Kalau dengan pesawat reguler.., gak bakalan sanggup deh.  Sayangnya waktu kami ke sana, kak Lila sedang sibuk-sibuknya di kampus, jadi gak bisa sepenuhnya menemani kami. 

 

 

Seperti biasa .kalau lagi jalan ke kota/negera lain, .kami sekeluarga..menjelajah sana-sini seputar KL.  Kali ini tidak lagi lima sekawan, kebanyakan kami hanya berempat..dan saya selalu jadi yang paling cantik  ha..ha…. 

 

 

 Ilman dan Irham adalah pengambil keputusan kemana kami harus berkunjung.  Ilman bahkan sudah buka website tempat-tempat yang ingin dikunjunginya.   Jadinya setiap kami ke lokasi, dia sudah jadi seperti ‘guide’  yang cerewet memberi info.   Twin Tower…tingginya sekian, dibangun tahun sekian.  Petro Sains museum merupakan musem yang begini..begitu.   Itu sebagian dari cerita Ilman. 

 

Terus di cable car saat ke Genting Highlands.., saat saya sedang gemetaran karena ketinggian.., Ilman justru dengan serunya cerita tentang komplek hotel yang dibangun di atas sana..   Ampun deh…’Can you keep quiet for a while Ilman ?’   ‘Just for a while…’   itu pinta saya saat itu.

 

 

 

Sepulang dari KL  kesibukan sudah menunggu lagi.   Persiapan kuliah semester depan… jadwal, penulisan modul, dan pengaturan praktikum. Plus kesibukan di rumah tentu saja.   Tapi kali ini nekat...posting.   Kangen..sih

 

 

 

 

Banda Aceh, 10 Feb 2009